Para pelatih atlet NTB ricuh, teriaki Kadispora minta diganti

Seorang pelatih atlet NTB (berjaket kuning) terlihat tengah ditenangkan oleh salah seorang saat pembagian bonus bagi atlet NTB yang berlaga di PON XX PAPUA pada, Kamis (28/10) di gedung Bhakti praja kantor Gubernur NTB

Mataram (Detikntbcom) – Pembagian bonus untuk kontingen PON dan Kafilah STQ Nusa Tenggara Barat yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda diwarnai keributan, Kamis (28/10).

Keributan dipicu setelah sejumlah pelatih Kontingen PON NTB melakukan protes lantaran pada prosesi penyerahan bonus, tak satupun menyebutkan berapa jumlah bonus yang harus diterima para pelatih.

gambar Iklan

Sontak usai acara penyerahan yang dihadiri Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan seluruh Forkopimda NTB itu, para pelatih kemudian melayangkan protes dengan meneriaki Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTB Surya Bahari yang masih ada di lokasi.

Tak hanya meneriaki, para pelatih juga memaki-maki Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTB disaat Gubernur NTB H Zulkieflimansyah sedang bersalaman dengan sejumlah atlet di Gedung Graha Bhakti Praja Kantor Gubernur NTB.

Tak puas dengan berteriak salah seorang pelatih sempat meluapkan emosinya dengan melayangkan tendangan ke hadapan Kepala Dispora NTB itu, namun untungnya tendangan itu terhalangi jejeran kursi yang masih ada di lokasi Gedung Graha Bhakti Praja Kantor Gubernur NTB.

“Kami merasa tidak dihargai. Ganti Kepala Dinas Dikpora itu Pak Gubernur. Ganti,” teriak salah satu pelatih Kempo Agus Suharian.

Di tengah situasi Gubernur NTB Zulkieflimansyah hanya bisa terdiam. Untuk meredam suasana Ketua Kontingen PON NTB Mori Hanafi dan Ketua KONI NTB Andy Hadianto dan tamu undangan hadir kemudian menenangkan para pelatih. Meski demikian, suara-suara ketidakpuasan masih terdengar.

Dikonfirmasi terkait keributan tersebut, Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah mengaku tak tahu menahu akar masalahnya karena baru tahu ada keributan seperti itu. Meski demikian Gubernur berjanji akan menuntaskan persoalan tersebut.

“Bonus untuk para pelatih tetap akan diserahkan, mungkin tadi administrasinya saja belum lengkap. Tenang saja,” ujarnya.

Gubernur menambahkan, dirinya tidak mungkin tahu sedetail itu. Namun, ia berharap kejadian itu kedepannya takkan terulang.

“Gubernur tidak akan tahu sedetail itu..Tetapi ini akan jadi masukan kita. Yang jelas tidak usah dibesar-besarkan, kasihan atlet kita yang lagi semangat-mangatnya,” ucapnya.

Ketua Kontingen NTB, Mori Hanafi, menyampaikan, untuk Provinsi di seluruh Indonesia, provinsi NTB yang pertama memberikan bonus. Kemudian, besaran bonus emas, perak dan perunggu, NTB urutan ketiga, sehingga perlu dihargai.

Disinggung soal protes pelatih, Mori menegaskan, hal itu sudah disampaikan, hanya kendala admistrasi, sehingga tabungan tidak bisa di cetak. Persoalan ini hanya miskomunikasi saja, bukan substansi.

Mengenai besaran bonus untuk pelatih, menurut Mori, ada rumus, ada persentasenya.

“Pak Gubernur sudah menghargai, ditengah kesulitan keuangan NTB, betul-betul menghargai atlet. Ini yang patut kita apresiasi kepada Gubernur dan Pemprov NTB,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua KONI NTB Andy Hadiamto, mengaku tidak ingin berkomentar lebih jauh mengenai hal itu. Karena urusan tersebut merupakan ranah Dinas Pemuda dan Olahraga NTB.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kerja-kerja pelatih harus diberi apresiasi. Karena pelatih juga sudah bekerja keras meski dalam kondisi tidak normal pun mereka sudah menunjukkan kinerja buat NTB.

“Intinya pelatih juga harus diapresiasi. Saya pikir pemerintah pahamlah soal itu. Ya sudah ya jangan diperpanjang, kasihan,” katanya.

Seperti diketahui, atlet peraih emas diberi bonus Rp300 juta, peraih perak Rp200 juta dan peraih perunggu Rp100 juta. Di PON XX Papua NTB tercatat mengoleksi 15 emas, 11 perak dan 12 perunggu dan berhasil duduk diperingkat sembilan nasional. (Iba)