Sport tourism jadi pemantik semangat investasi di NTB, bantah pengerahan ASN, MXGP tak pakai APBD

Para pembicara dialog publik: Komandan Lapangan MXGP Samota, Ir. Ridwansyah, Wakil Ketua DPRD NTB sekaligus Ketua KONI dan PSSI NTB, Mori Hanafi, Ekonom Unram, Dr Firmansyah, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) NTB, M. Natsir dan unsur Polda NTB digelar tim redaksi Detikntbcom pada Sabtu 2 Juli 2022 di Restoran The Sultan Food Kota Mataram.

Mataram (Detikntbcom) – Ajang balap motor cross dunia atau Motocross Grand Prix (MXGP) telah usai digelar di Samota, Sumbawa. Berbagai apresiasi disampaikan atas suksesnya event tersebut, namun tidak sedikit juga beberapa pihak menyampaikan kritik.

Untuk menampung saran maupun kritik penyelenggaraan MXGP Samota, diskusi publik bertema “Suksesnya MXGP Mendunia dan Bangkitnya Ekonomi NTB (evaluasi, kritik, saran dan rekomendasi)” digelar di Restoran The Sultan Food Mataram, Sabtu, 2 Juli 2022.

Diskusi yang diinisiasi DetikNTB.com tersebut menghadirkan beberapa pembicara seperti Komandan Lapangan MXGP Samota, Ir. Ridwansyah, Wakil Ketua DPRD NTB sekaligus Ketua KONI dan PSSI NTB, Mori Hanafi, Ekonom Unram, Dr Firmansyah, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) NTB, M. Natsir dan unsur Polda NTB.

Penyelenggara acara, Ibrahim Bram Abdullah mengatakan saat MotoGP Mandalika lalu, sebanyak Rp4,5 triliun keuntungan Indonesia. Sehingga menarik untuk dibedah hasil dari penyelenggaraan MXGP Samota untuk Indonesia maupun NTB.

“4,5 triliun untuk Indonesia, tidak mudah menghadirkan MotoGP. Daerah lain berkeinginan besar menggelar event tersebut,” katanya.

Selain keuntungan finansial, baik MotoGP maupun MXGP mendongkrak pariwisata NTB, dan menjadikan NTB sebagai sport tourism. Terlebih lagi kontrak MotoGP sepanjang 10 tahun, sementara MXGP sepanjang 5 tahun.

“Ini poin penting menghadirkan sport tourism. Juga ada berbagai event di massa akan datang ada WSBK, MotoGP,” ujarnya.

Komandan Lapangan MXGP Samota, Ir. Ridwansyah, mengatakan MXGP merupakan langkah untuk membawa ekonomi ke Sumbawa. Karena, untuk mendatangkan ekonomi, maka dibutuhkan sport tourism yang dapat menarik orang ke sana.

“Kita ingin ada penyebaran ekonomi dari kesuksesan event-event tersebut. Kita menyebarkan ekonomi untuk Sumbawa. Kalau kita ingin membangkitkan ekonomi, cara bagus dengan mendatangkan banyak orang melalui event sport tourism,” ujarnya.

Ridwansyah mengatakan Samota kini telah menjadi kawasan strategis provinsi yang tertuang dalam Perda. Maka Pemprov memiliki kewajiban untuk mempromosikan Samota.

“Samota adalah kawasan strategis provinsi, ada dalam Perda. Kewajiban kami mempromosikan Samota kepada dunia agar ekonomi masuk,” katanya.

Dia mengatakan, tidak ada satupun dana bersumber dari APBD yang digelontorkan untuk MXGP, seperti yang dituduhkan oleh pihak-pihak tertentu. Dana APBD hanya untuk infrastruktur menuju Samota, sesuai dengan tupoksi.

“Saya tegaskan satu sen-pun tidak ada APBD di sana. Semua mereka bayar sendiri. Yang disiapkan pemerintah infrastruktur pendukung, seperti jalan. Anggaran pemerintah sebatas memperbaiki infrastruktur atau pekerjaan yang memang tupoksinya pemerintah,” paparnya.

Ridwansyah menyampaikan kabar baik. Selain menyelenggarakan event di Sumbawa dan Lombok, sesekali event sport tourism akan digelar di Bima atau Dompu.

“Dua event setiap tahun, di Lombok dan Sumbawa untuk MXGP. Tapi di Sumbawa saya minta Pak Gubernur, harus sekali ada di Bima dan Dompu,” katanya.

Langkah tersebut sekaligus untuk mempromosikan daerah-daerah di NTB, untuk mendatangkan investasi yang berguna bagi kemajuan daerah.

“Investasi butuh kepastian, bagaimana mau membangun hotel kalau tidak ada kepastian. Dengan adanya kontrak MotoGP dan MXGP yang panjang akan mendatangkan investasi,” katanya.

Bahkan, Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo meminta NTB menggelar event sekali sebulan. Terlebih lagi MXGP Samota kemarin, sebanyak 628 UMKM terlibat, sehingga mendorong kebangkitan UMKM.

“Ada 628 UMKM saat MXGP. Ini mendorong pertumbuhan UMKM,” kata Ridwansyah.

Sementara, Kepala BKD NTB, M. Natsir mengatakan selama ajang MXGP Samota tidak ada pengerahan ASN untuk menonton. Dia membantah tudingan yang mengatakan ASN diarahkan menonton MXGP.

“Pengerahan ASN sama sekali tidak ada secuil kertas yang ditandangani agar mengerahkan ASN di sana,” ujarnya.

Dia mengatakan, ASN memang berkeinginan sendiri untuk nonton, dengan dana yang menjadi hak mereka di APBD.

“ASN tidak menggunakan dana APBD. Dia membeli tiket melalui dana APBD, tapi bagian hak mereka. Misalnya dan tambahan penghasilan,” jelasnya.

Dari Langkah Pertama

Wakil Ketua DPRD NTB, Mori Hanafi, mengapresiasi langkah Gubernur NTB, Zulkieflimansyah membangun daerah dengan menghadirkan event yang mendunia.

“Pak Gubernur secara politik saingan saya. Tapi dalam proses pembangunan NTB, saya paling sepakat dengan beliau karena pola pikir beliau,” katanya.

Mori mengambil kata-kata bijak Gubernur NTB, untuk mencapai suatu keinginan harus dimulai dari langkah pertama.

“Dia (gubernur) melihat di ujung, kita kadang tidak sampai melihat. Untuk melangkah lebih jauh, kita mulai dengan langkah pertama, sesuai kata Pak Gubernur,” ujarnya.

Kesusksesan MXGP Samota kata Mori, memantik daerah lain untuk mengikuti jejak NTB. Banyak provinsi yang menginginkan adanya sirkuit di daerah mereka.

“Karena kesusksesan kita kemarin, se Indonesia mau. Pingin dibangunkan sirkuit,” katanya.

Untuk itu, Mori berharap agar masyarakat NTB memberikan kritik dan saran yang membangun, bukan untuk menjatuhkan kesuksesan event dunia tersebut.

“Jangan mengkritik diri kita hanya berdasarkan asumsi. Mungkin sebagian orang tua kita yang dagang, mungkin saudara kita (mendapatkan keuntungan dari MXGP),” katanya.

“Kami DPRD berharap masa yang akan datang kritik tetap kritik membangun. Pasti ada kekurangan, tapi kita berharap disempurnakan. Keterlibatan masyarakat, perlu dielaborasi lagi,” ujarnya.

Bahkan, melihat kesusksesan NTB menyelenggarakan event dunia, KONI pusat menawarkan NTB menjadi tuan rumah PON remaja pada 2024.

“Melihat kesusksesan kita KONI pusat menawarkan jadi tuan rumah PON remaja tahun 2024, karena dilihat MXGP sukses, jadi tawaran datang dengan sendirinya. Apa kita tidak bangga?” kata Mori.

Bahkan, untuk mengikuti visi Gubernur NTB, Mori akan mengubah misi LIGA 3 PSSI menjadi “dari NTB untuk Indonesia menuju piala dunia.”

Kasubdit Penmas Polda NTB, Kompol Putu Suarbawa, mengatakan kesusksesan MXGP Samota tidak terlepas dari peran media.

Dia mengatakan, tanpa media akan membuat kurang berjalan maksimal setiap tujuan Polda NTB. Sehingga, sinergi antara media dan kepolisian perlu dipupuk.

“Terimakasih ke rekan media sosialisasi dan memberikan imbauan ke masyarakat. Terus terang, kami di Polda tanpa media tidak bisa berjalan maksimal,” katanya.

Kompol Putu Suarbawa menjelaskan, setiap kegiatan maupun imbauan Polda NTB untuk pengamanan MXGP, terus didukung media dalam bentuk pemberitaan.

“Rencana kami tidak sampai ke masyarakat tanpa media. Contoh pengamanan MXGP dari masing-masing Polres, media bersinergi memberitakan,” ujarnya.

Terakhir, Pakar Ekonomi Unram
Dr Firmansyah, mengatakan berdasarkan riset, setiap kegiatan sport tourism akan memicu banyak orang untuk datang.

Dia menyebutkan, MXGP, MotoGP maupun event lain akan menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke NTB.

“Hasil riset menunjukkan setiap penyelenggaraan event sport dunia akan membuat keinginan banyak orang berkunjung. Ini menjadi pintu masuk. Semangat harus dijaga bersama,” jelasnya.

Untuk kesusksesan event dunia di NTB ke depan, dibutuhkan kolaborasi dan pembagian tugas yang baik.

“Tata kelola sport tourism harus membangun organisasi bersama dan membuat aturan main. Baru kemudian berpikir siapa dapat apa, dan siapa berperan,” katanya. (Iba)