Muazzim Akbar Tekankan Empat Pilar Kebangsaan sebagai Fondasi SDM Unggul dan Pelestarian Kearifan Lokal

Anggota MPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Dapil NTB II, Muazzim Akbar, menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di dua desa di Kabupaten Lombok Barat. (Iba)
Anggota MPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Dapil NTB II, Muazzim Akbar, menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di dua desa di Kabupaten Lombok Barat. (Iba)

Detikntbcom — Anggota MPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Dapil NTB II, Muazzim Akbar, menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di dua desa di Kabupaten Lombok Barat.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Desa Gerimak Indah, Kecamatan Narmada, dan Kantor Desa Gegelang, Kecamatan Lingsar, sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing global.

Di Desa Gerimak Indah, sosialisasi difokuskan pada penguatan karakter kebangsaan sebagai fondasi peningkatan kualitas SDM. Kepala Desa Gerimak Indah, Amal Suardi, menyampaikan apresiasi atas kehadiran langsung anggota MPR RI di tingkat desa.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak H. Muazzim Akbar yang berkenan turun langsung ke desa untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada masyarakat. Kegiatan seperti ini jarang dilakukan pejabat negara di tingkat desa,” ujar Muazzim, 26 Desember 2025 di Mataram.

Dalam pemaparannya, Muazzim Akbar menegaskan bahwa pembangunan SDM tidak cukup hanya mengandalkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tetapi harus dibangun di atas fondasi karakter dan nilai-nilai kebangsaan yang kuat.

“Empat Pilar Kebangsaan merupakan rumusan jenius para pendiri bangsa. Inilah cetak biru untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya—cerdas, terampil, dan berakhlak mulia,” ujar mantan Ketua APJATI NTB tersebut.

Ia menjelaskan, Pancasila menjadi landasan pembentukan karakter SDM yang beriman dan beretika, UUD 1945 mengajarkan tata kelola kehidupan berbangsa yang adil dan demokratis, NKRI menumbuhkan semangat persatuan dan nasionalisme, serta Bhinneka Tunggal Ika membangun sikap toleransi dan kolaborasi dalam keberagaman.

“Di era Revolusi Industri 4.0 dan persaingan global, kita tidak hanya membutuhkan tenaga kerja teknis, tetapi juga problem solver, inovator, dan pemimpin yang berkarakter kuat. Karakter itulah yang bersumber dari nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan,” tegas putra Selanglet ini.

Sosialisasi berlangsung interaktif dengan diskusi mengenai tantangan degradasi karakter, budaya instan, dan meningkatnya sikap individualistik. Menanggapi hal tersebut, Muazzim menekankan pentingnya keteladanan dan internalisasi nilai kebangsaan sejak dini, mulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.

Salah seorang peserta, Nuruddin, menilai kegiatan tersebut menjadi pengingat penting bahwa pembangunan SDM merupakan investasi jangka panjang.

“Kecerdasan tanpa karakter justru berbahaya bagi masa depan bangsa,” ungkapnya.

Sementara itu, di Desa Gegelang, Kecamatan Lingsar, Muazzim Akbar kembali menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dengan tema “Merajut Kearifan Lokal untuk Memperkuat Sendi-Sendi Kebangsaan”. Acara ini dihadiri sejumlah kepala desa se-Kecamatan Lingsar dan Narmada, tokoh adat, pemuda, ibu-ibu PKK, serta pelaku UMKM.

Dalam pengantarnya, Muazzim menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan bukan konsep abstrak, melainkan nilai-nilai yang telah lama hidup dalam kearifan lokal masyarakat Nusantara.

“Gotong royong, musyawarah, sikap hormat kepada alam dan sesama adalah praktik nyata nilai-nilai Pancasila yang telah diwariskan leluhur kita. Melestarikan kearifan lokal berarti mengamalkan konstitusi secara paling otentik,” ujarnya.

Kepala Desa Gegelang, Husnu Muktar, mengapresiasi kegiatan tersebut dan menyebut kehadiran anggota MPR RI di desanya sebagai momen bersejarah.

“Selama ini kami belum pernah dikunjungi anggota DPR RI, baik dalam kegiatan reses maupun sosialisasi. Kami sangat berterima kasih kepada Bapak H. Muazzim Akbar yang berkenan hadir langsung di Desa Gegelang,” katanya, disambut tepuk tangan peserta.

Muazzim Akbar menambahkan bahwa kearifan lokal merupakan praktik hidup yang mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya.

“NKRI adalah payung besar yang melindungi seluruh khazanah kearifan lokal dari Sabang sampai Merauke. Keberagaman itulah yang justru memperkaya dan memperkuat persatuan bangsa,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pudarnya penghargaan terhadap kearifan lokal, khususnya di kalangan generasi muda, menjadi ancaman serius bagi ketahanan budaya dan karakter bangsa.

“Padahal, di dalam kearifan lokal terdapat solusi atas berbagai persoalan modern, mulai dari kerusakan lingkungan, konflik sosial, hingga krisis karakter. Empat Pilar Kebangsaan harus menjadi lensa untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur nenek moyang kita,” tutupnya. (Iba)