Menjadikan Serambi Al-Qur’an Haluan Peradaban dan Kebudayaan NTB, Menyambung Jejak Para Tuan Guru, Qori Dunia dan Peradaban Sasambo

Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhammad Ihwan. (Iba)
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhammad Ihwan. (Iba)

Oleh: Muhammad Ihwan*

Gagasan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai Serambi Al-Qur’an sejatinya bukanlah upaya membangun identitas baru. Sebaliknya, gagasan ini merupakan ikhtiar untuk menemukan kembali jati diri yang telah lama mengakar dalam sejarah dan kehidupan masyarakat NTB.

Jauh sebelum istilah Serambi Al-Qur’an digaungkan oleh Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo telah hidup berdampingan dengan nilai-nilai Al-Qur’an selama berabad-abad. Islam hadir di bumi NTB bukan melalui kekuatan senjata, melainkan melalui dakwah, pendidikan, perdagangan, dan kebudayaan.

Dari kampung-kampung adat di Bayan, masjid-masjid kuno di Lombok, hingga wilayah bekas Kesultanan Bima, Kesultanan Dompu, dan Kesultanan Sumbawa, nilai-nilai Al-Qur’an telah menjadi sumber inspirasi yang membentuk cara berpikir masyarakat, tata pemerintahan, hukum adat, seni, dan tradisi.

Di Lombok lahir generasi tuan guru yang menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan masyarakat. Di Sumbawa berkembang falsafah Adat Barenti Ko Syara’, Syara’ Barenti Kitabullah. Sementara di Bima tumbuh falsafah Maja Labo Dahu yang merepresentasikan nilai-nilai Qurani tentang rasa malu, tanggung jawab moral, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Karena itu, Serambi Al-Qur’an tidak semestinya dipahami hanya sebagai program keagamaan. Lebih dari itu, ia merupakan upaya mengonsolidasikan kembali fondasi peradaban NTB yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Tradisi Al-Qur’an yang Tak Pernah Putus

NTB memiliki modal sosial dan budaya yang istimewa. Tidak banyak daerah di Indonesia yang secara konsisten melahirkan qari dan qariah berprestasi di tingkat dunia.

Dalam dua dekade terakhir, NTB menjelma menjadi salah satu lumbung tilawah Al-Qur’an nasional. Nama Syamsuri Firdaus menjadi simbol keberhasilan pembinaan Al-Qur’an di daerah ini. Berbagai prestasi internasional yang diraihnya, termasuk di Turki dan Kuwait, telah mengharumkan nama Indonesia sekaligus mengukuhkan NTB sebagai daerah yang memiliki tradisi pembelajaran Al-Qur’an yang kuat.

Keberhasilan tersebut tidak berhenti pada satu generasi. Awal tahun 2026, qari cilik asal Kota Bima, Muhammad Zian Fahrezi, berhasil meraih Juara I MTQ Internasional Al-Ameed di Karbala, Irak. Prestasi itu menjadi kebanggaan nasional dan mendapat apresiasi langsung dari Presiden Republik Indonesia.

Pada tahun yang sama, qari muda NTB lainnya, Imranul Karim, juga meraih juara pertama dalam ajang MTQ Internasional di Rusia. Rangkaian prestasi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan NTB bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari tradisi pembinaan Al-Qur’an yang panjang, sistematis, dan berkelanjutan.

Fakta-fakta tersebut menegaskan bahwa NTB sesungguhnya telah memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk menjadi Serambi Al-Qur’an Indonesia.

Lebih dari Sekadar Hafiz dan Qori

Meski demikian, kita perlu bersikap jujur. Predikat Serambi Al-Qur’an tidak boleh hanya diukur dari banyaknya pelaksanaan MTQ, jumlah hafiz, atau banyaknya trofi yang berhasil dibawa pulang.

Al-Qur’an tidak diturunkan semata-mata untuk dibaca dan diperlombakan. Al-Qur’an hadir untuk membentuk manusia dan membangun peradaban.

Di sinilah tantangan besar NTB ke depan

Bagaimana menjadikan kejujuran sebagai budaya birokrasi. Bagaimana amanah menjadi karakter kepemimpinan. Bagaimana membaca dan menuntut ilmu menjadi kebiasaan masyarakat. Bagaimana kebersihan menjadi budaya lingkungan. Bagaimana musyawarah menjadi etika politik. Dan bagaimana kasih sayang menjadi fondasi keluarga.

Apabila nilai-nilai tersebut berhasil diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, maka Serambi Al-Qur’an tidak lagi berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi karakter sosial masyarakat NTB.

Kebudayaan NTB Bertumpu pada Nilai-Nilai Qurani

Dalam penyusunan Haluan Kebudayaan NTB 2026–2045, gagasan Serambi Al-Qur’an layak ditempatkan sebagai salah satu fondasi utama pembangunan kebudayaan daerah.

Bukan untuk menghilangkan budaya lokal, melainkan untuk memperkuatnya. Sebab kebudayaan NTB yang berkembang selama ratusan tahun sesungguhnya lahir dari perjumpaan harmonis antara adat dan Islam.

Tarian boleh berkembang. Musik boleh berinovasi. Festival boleh bertambah. Teknologi boleh berubah. Namun nilai dasarnya harus tetap berpijak pada akhlak, adab, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan.

Karena itu, pengembangan Objek Pemajuan Kebudayaan di NTB perlu diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai tersebut. Tradisi lisan dapat menjadi media pendidikan karakter. Manuskrip kuno menjadi sumber literasi Islam Nusantara. Adat istiadat menjadi sarana memperkuat harmoni sosial. Bahasa daerah menjadi media penyebaran nilai kebajikan. Permainan rakyat menjadi ruang pembentukan karakter generasi muda. Seni menjadi instrumen dakwah kebudayaan. Sementara cagar budaya dapat menjadi ruang pembelajaran sejarah peradaban Islam di NTB.

Implementasi dalam Kebijakan Kebudayaan

Agar gagasan Serambi Al-Qur’an tidak berhenti pada tataran konseptual, diperlukan langkah-langkah nyata dalam kebijakan kebudayaan daerah.

Pertama, pendirian Museum Tuan Guru, Ulama, dan Perkembangan Islam NTB sebagai pusat dokumentasi dan narasi sejarah Islam daerah.

Kedua, digitalisasi manuskrip Islam NTB yang tersimpan di pesantren, keluarga bangsawan, dan komunitas adat.

Ketiga, pengembangan Jalur Peradaban Islam NTB yang menghubungkan kawasan-kawasan bersejarah di Lombok, Sumbawa, Dompu, dan Bima sebagai destinasi wisata sejarah dan religi.

Keempat, integrasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam muatan lokal budaya NTB di lingkungan pendidikan.

Kelima, pembentukan Duta Budaya Qurani Desa Berdaya yang menggabungkan literasi budaya dan literasi Al-Qur’an.

Keenam, penyelenggaraan Festival Serambi Al-Qur’an NTB yang memadukan seni, budaya, manuskrip, kaligrafi, ekonomi kreatif, dan tradisi Islam lokal.

Ketujuh, pembangunan Pusat Kajian Peradaban Islam NTB yang melibatkan perguruan tinggi, pesantren, budayawan, dan pemerintah daerah.

Menatap NTB 2045

Ketika Gubernur NTB menggaungkan visi Serambi Al-Qur’an, sesungguhnya yang ditawarkan bukan sekadar agenda keagamaan. Yang sedang dibangun adalah arah peradaban.

Peradaban yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai. Peradaban yang memuliakan ilmu pengetahuan. Peradaban yang menghormati adat dan budaya. Peradaban yang menjaga lingkungan. Peradaban yang menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Peradaban yang melahirkan generasi-generasi seperti Syamsuri Firdaus, Muhammad Zian Fahrezi, Imranul Karim, dan ribuan anak NTB lainnya yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan indah, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata.

Pada akhirnya, Serambi Al-Qur’an bukanlah tentang seberapa banyak ayat yang dibaca. Ia adalah tentang seberapa jauh nilai-nilai Al-Qur’an hidup dan tumbuh dalam kebudayaan masyarakat.

Jika cita-cita itu berhasil diwujudkan, maka Serambi Al-Qur’an tidak hanya menjadi identitas NTB. Ia akan menjadi haluan pembangunan peradaban yang mengantarkan NTB menuju masa depan yang maju, berbudaya, bermartabat, dan mendunia.

*Penulis adalah Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB

Editor: Ibrahim Bram Abdollah