Hijrah Peradaban: Menjaga Akar, Menjangkau Dunia

Gedung Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB. (Iba/Ist)
Gedung Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB. (Iba/Ist)

Oleh: Muhamad Ihwan*

Tahun Baru Islam tidak pernah datang dengan gemerlap pesta. Ia hadir dalam keheningan yang mengajak manusia merenung tentang perjalanan hidup, arah perubahan, dan makna masa depan. Karena sejatinya hijrah bukan sekadar perpindahan waktu dari satu tahun ke tahun berikutnya. Hijrah adalah perpindahan kesadaran; keberanian meninggalkan cara pandang lama menuju kehidupan yang lebih baik.

Pesan inilah yang terasa relevan bagi Nusa Tenggara Barat saat memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Di tengah arus globalisasi, percepatan teknologi, dan kompetisi antarwilayah yang semakin ketat, NTB sesungguhnya sedang menjalani sebuah hijrah besar: hijrah pembangunan, hijrah kebudayaan, dan hijrah peradaban.

Visi NTB Makmur Mendunia yang diusung Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal bukan semata-mata agenda pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, visi tersebut mengandung cita-cita besar untuk menghadirkan kemajuan yang tetap berpijak pada identitas, sejarah, dan karakter masyarakat NTB. Menjadi bagian dari dunia tanpa kehilangan akar kebudayaannya sendiri.

Dalam berbagai kesempatan berdialog, Gubernur berulang kali mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh membuat masyarakat tercerabut dari sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang selama ini membentuk jati dirinya. Sebab kemajuan yang kehilangan identitas pada akhirnya hanya akan menghasilkan pembangunan fisik tanpa ruh kebudayaan.

Pesan tersebut sesungguhnya sangat penting. Banyak daerah berlomba-lomba menjadi modern dengan meniru keberhasilan pihak lain. Namun sejarah menunjukkan bahwa peradaban-peradaban besar justru tumbuh karena mampu menjaga identitasnya sambil beradaptasi dengan perubahan zaman. Jepang dikenal dunia karena ke-Jepangannya. Korea Selatan mendunia karena berhasil menjadikan budayanya sebagai kekuatan global. Demikian pula NTB, yang hanya akan diperhitungkan dunia ketika mampu menunjukkan keunikan dirinya sendiri.

Di sinilah Islam dan kebudayaan bertemu sebagai fondasi peradaban. Sejak berabad-abad lalu, Islam tidak hanya menjadi agama mayoritas masyarakat NTB, tetapi juga membentuk cara hidup, nilai sosial, seni tradisi, bahasa, hingga tata hubungan manusia dengan alam. Nilai-nilai Islam hidup dalam tradisi masyarakat Sasak, Tau Samawa, serta warisan Kesultanan Bima dan Dompu yang pernah melahirkan tradisi intelektual dan pemerintahan yang maju.

Karena itu, ketika berbicara tentang kebudayaan NTB, sesungguhnya kita juga sedang berbicara tentang bagaimana nilai-nilai Islam terus hidup dan memberi arah bagi kehidupan masyarakat. Predikat Serambi Al-Qur’an yang melekat pada NTB bukan sekadar simbol religius, melainkan cerminan bagaimana Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi dalam membangun kehidupan sosial dan kebudayaan daerah.

Namun tantangan zaman terus berubah. Globalisasi mempercepat pertemuan berbagai budaya. Teknologi digital mengubah pola pikir dan perilaku generasi muda. Dalam situasi seperti ini, tantangan terbesar bukanlah menjaga agar budaya tetap ada, melainkan memastikan budaya tetap memiliki fungsi dan relevansi.

Kita masih memiliki bahasa daerah, tradisi lisan, manuskrip kuno, rumah adat, kesenian, permainan rakyat, dan berbagai warisan budaya lainnya. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: apakah semua itu masih menjadi sumber inspirasi, sumber inovasi, dan sumber kesejahteraan bagi masyarakat hari ini?

Karena itulah pembangunan kebudayaan tidak boleh berhenti pada pelestarian semata. Kebudayaan harus hadir sebagai kekuatan pembangunan. Ia harus menjadi sumber kreativitas, pendidikan, ekonomi, karakter, sekaligus diplomasi daerah.

Atas dasar itulah Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Kebudayaan tengah menyusun fondasi besar pembangunan kebudayaan jangka panjang, mulai dari pemutakhiran Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), penyusunan Haluan Pemajuan Kebudayaan NTB 2045, Road Map Pemajuan Kebudayaan, Rencana Aksi Pemajuan Kebudayaan, hingga penyusunan Peraturan Gubernur tentang Pemajuan Kebudayaan. Seluruh langkah tersebut diarahkan untuk memastikan kebudayaan menjadi kekuatan strategis dalam pembangunan daerah menuju 2045.

Gubernur NTB pernah menyampaikan sebuah gagasan yang patut direnungkan bersama: “Mendunia bukan berarti menjadi seperti orang lain. Mendunia adalah ketika dunia datang untuk mengenal siapa kita sebenarnya.”

Kalimat tersebut menggambarkan arah besar pembangunan NTB ke depan. Mendunia bukan berarti kehilangan identitas. Mendunia justru berarti menghadirkan identitas sebagai kekuatan.

NTB memiliki modal besar untuk itu. Dari Gunung Rinjani yang menyimpan narasi budaya dan spiritual, jejak peradaban Samalas yang menjadi pelajaran dunia tentang hubungan manusia dan bencana, Kota Tua Ampenan yang menjadi simbol keterbukaan antarbangsa, hingga masyarakat adat Bayan yang menjaga tradisi berabad-abad lamanya. Semua itu adalah modal peradaban yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Karena peradaban tidak dibangun hanya melalui jalan raya, gedung, dan infrastruktur. Peradaban dibangun melalui gagasan, nilai, pengetahuan, karakter, dan identitas masyarakatnya.

Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah mengingatkan kita bahwa setiap perubahan besar selalu diawali oleh keberanian untuk berhijrah. NTB hari ini membutuhkan hijrah yang sama: hijrah dari budaya yang hanya dikenang menjadi budaya yang menggerakkan; dari warisan yang hanya disimpan menjadi warisan yang dimanfaatkan; dari identitas yang hanya dibanggakan menjadi identitas yang mampu menghadirkan kesejahteraan.

Inilah makna terdalam perjalanan menuju NTB Makmur Mendunia. Sebuah perjalanan yang menjadikan Islam sebagai sumber nilai, kebudayaan sebagai sumber kekuatan, dan kemajuan sebagai tujuan bersama.

Sebab dunia tidak akan mengenal kita karena menjadi seperti orang lain. Dunia akan mengenal NTB ketika NTB mampu menunjukkan dirinya sendiri: berakar kuat pada nilai-nilai Islam, bertumpu pada kebudayaannya, dan melangkah mantap menuju masa depan yang makmur mendunia.

*Penulis adalah Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB

Editor: Ibrahim Bram Abdollah