Beranda Politik DSU : Jakarta Mengirim Sinyal, Ada Potensi Pilkada Serentak ditunda

DSU : Jakarta Mengirim Sinyal, Ada Potensi Pilkada Serentak ditunda

12
0
Dian Sandi Utama, (ist)

MATARAM| Pilkada 2020 diketahui akan tetap digelar pada 9 Desember mendatang usai mundur dari jadwal semula yakni 23 September 2020. Saat ini tahapan pilkada telah sampai pada proses pendaftaran pasangan calon.

DSU panggilan akrab Dian Sandi Utama tiba-tiba menulis di laman facebooknya bahwa ada potensi Pilkada serentak 2020 ditunda lagi.

“Jakarta Mengirim Sinyal, Ada potensi pilkada ditunda,” tulis dian di akun pribadinya.

Saat dikonfirmasi, DSU menjelaskan bahwa maksud dari statusnya adalah karena ia melihat Jakarta kembali menerapkan PSBB dan hal itu disebabkan oleh melonjaknya angka penularan covid-19 yang masuk kondisi darurat, karena rumah sakit di Jakarta semua penuh.

“Sebenarnya status saya itu tidak sebagai ungkapan saya setuju atau tidak jika Pilkada ditunda tapi jika melihat Jakarta sebagai potret peristiwa selama ini, ada potensi daerah-daerah lain mengikuti,” terang Politisi muda dari Partai Demokrat kepada media ini. (10/9/20).

Dian menilai bahwa keselamatan masyarakat menjadi alasan kuat untuk menunda pilkada ini.

“Saya juga membaca pendapat pakar Epidemiolog dari Griffith University, Pak Dicky Budiman yang mengatakan, idealnya pelaksanaan Pilkada Serentak ditunda tapi keputusan itu sangat berat. Berat bagi pemerintah tetapi pemerintah juga tidak mungkin menutup mata dari kondisi obyektif yang terjadi saat ini. Sebagian besar masyarakat, LSM dan Para pakar sangat khawatir kalau-kalau Pilkada ini justru menjadi cluster baru penyebaran covid-19 dan potensi itu sangat besar,” Terangnya dian.

Ia menjelaskan, kampanye bisa memicu adanya gelombang besar penyebaran Covid-19 dikarenakan banyak orang yang akan berkumpul dan berkampanye.

“Kita ini tidak punya pilihan, seperti halnya rapat, sekolah atau wisuda yang bisa memanfaatkan teknologi dengan menggunakan sistem daring. Tapi kalau Pemilu, hampir pasti orang-orang akan kumpul (kampanye) belum lagi nanti saat mencoblos,” ungkapnya.

“Memang soal Pilkada ini harus kita fikirkan kembali, jika pemerintah siap dengan protokol yang ketat saya rasa tidak ada masalah tapi jika masih belum siap, Pilkada bukanlah segalanya. Kita semua tentu tidak menginginkan, sesuatu yang kita hajatkan sebagai pesta rakyat (demokrasi) malah berubah menjadi pesta penderitaan,” pungkasnya.

www.lombokfokus.com

Leave your vote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings