LOMBOK FOKUS | Kasus 4 Ibu Rumah Tangga (IRT) dan Balita di Lombok Tengah menjadi sorotan publik.
Kasus ini berawal dari pelemparan atap berbahan spandek menggunakan kayu songkok dan batu ke gudang pengolahan tembakau berujung ke meja hijau.
Gudang yang berlokasi di Desa Wajegeseng Kecamatan Kopang Kabupaten Lombok Tengah merasa keberatan dan melakukan langkah hukum untuk memperoses si pelaku pelempar.
Ketua Jaringan Mahasiswa dan Pemuda Nusantara (JAPMA) Nusa Tenggara Barat, Saidin Al Fajr menyoroti kasus ini sedikit berbeda dari kebanyakan orang. Ia malah menyoroti tokoh perempuan yang merupakan orang nomor dua di NTB yakni Wakil Gubernur NTB, Rohmi Djalilah yang tak sedikitipun melirik kasus yang menimpa 4 IRT dan Balita.
“Kasus 4 IRT dan balitanya benar-benar mendapat sorotan publik, kasus yang berawal dari pelemparan atap berbahan spandek gudang pengolahan tembakau di Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah. Tokoh Nasional ikut berkomentar diantaranya DPR RI, Ahmad Syahroni, Sari Yuliati dan Helmi Faisal,” Ungkap Saidin Al Fajr. Selasa 23/2/21
Aktivis ini menanyakan langkah yang telah diambil oleh Wakil Gubernur sebagai ikon perwakilan gender.
“Didaerah, Gubernur NTB turun tangan, Bupati terpilih pun demikian, tokoh-tokoh berkomentar. Ini tentu bentuk kepedulian mereka terhadap isu kemanusiaan. Tapi disaat isu yang tengah menyeret ibu-ibu dan anak bayinya, ibu Wagub kita ini kemana? Padahal beliau itu semenjak mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur NTB menyatakan dirinya sebagai figur perempuan NTB, sampai bersurat-surat dulu ke seluruh perempuan NTB. Tapi sekarang kemana?,” tanya saidin.
Saidin menyayangkan tokoh perempuan inspiratif ini tidak muncul dipermukaan dan melakukan tindakan yang humanis sebagai kaum perempuan.
“Beberapa lalu beliau dinobatkan sebagai tokoh perempuan inspiratif, kita senang dengan penghargaan itu tapi ketika ada persoalan seperti ini yang melanda perempuan NTB beliau semestinya jangan menghilang. Sekarang seperti yang kita lihat bersama, jangankan menjenguk sekedar berkomentar di media saja tidak pernah,” sedihnya.














