Setahun Kepemimpinan Iqbal-Dinda: Akselerasi Nyata Membalikkan Kontraksi Menjadi Kebangkitan Ekonomi NTB

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayantib Putri memperingati HUT NTB tahun lalu. (Iba)
Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayantib Putri memperingati HUT NTB tahun lalu. (Iba)

Detikntbcom – Diskusi publik mengenai capaian ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang tahun 2025 sempat diwarnai perdebatan akibat perbedaan persepsi data. Namun, jika ditelaah lebih dalam, angka-angka yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebuah potret besar: NTB sedang berada dalam fase transisi dari koreksi menuju akselerasi yang solid.

Berdasarkan data BPS NTB, terdapat dua angka utama yang muncul. Pertama, pertumbuhan sebesar 12,49 persen (year-on-year), yang menggambarkan lonjakan aktivitas pada Triwulan IV-2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kedua, angka 3,22 persen yang merupakan pertumbuhan kumulatif (c-to-c) sepanjang tahun 2025.

Menembus Batas Kontraksi

Awal tahun 2025 merupakan periode menantang bagi kepemimpinan Iqbal–Dinda. Ekonomi NTB sempat terkontraksi hingga minus 1,47 persen akibat kendala teknis di sektor pertambangan dan operasional smelter. Namun, memasuki paruh kedua tahun tersebut, arah angin berubah.

Jika diukur dari titik terendah (minus 1,47 persen) hingga penutupan tahun di angka 3,22 persen, terjadi lompatan performa sebesar 4,69 poin. Capaian ini setara dengan enam kali lipat dari target kenaikan moderat yang ditetapkan dalam RPJMD 2025 (0,70 poin).

Hilirisasi dan Kekuatan Ekonomi Rakyat

Satu poin krusial yang luput dari perhatian publik adalah performa ekonomi jika sektor tambang bijih logam dikeluarkan dari perhitungan. Tanpa ketergantungan pada tambang, ekonomi NTB justru tumbuh perkasa di angka 8,33 persen secara kumulatif dan 13,7 persen secara tahunan.

“Ini membuktikan bahwa ekonomi rakyat tidak melemah. Sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan non-tambang menunjukkan kinerja yang sangat solid,” tulis laporan tersebut.

Beberapa indikator penguatan sektor non-tambang meliputi Pertanian: Produksi padi melonjak dari 152 ribu ton menjadi 200 ribu ton GKG, Industri Pengolahan: Tumbuh fantastis sebesar 137,78 persen, dipicu oleh mulai beroperasinya smelter secara penuh, Pariwisata: Tingkat hunian hotel naik 30,94 persen dan aktivitas penumpang udara meningkat 10,69 persen. Kesejahteraan: PDRB per kapita meningkat menjadi Rp33,67 juta, dibarengi penurunan angka pengangguran dan peningkatan jumlah pekerja formal.

Fondasi Transformasi di Tahun Pertama

Tahun 2025 di bawah kepemimpinan Iqbal–Dinda bukan sekadar angka pertumbuhan, melainkan tahun peletakan fondasi transformasi ekonomi. Hilirisasi yang selama ini menjadi wacana, mulai memberikan dampak nyata pada struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.

Lonjakan di akhir tahun (Triwulan IV) sebesar 12,49 persen menjadi sinyal kuat bahwa kapasitas produksi daerah telah terbentuk. Konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh di angka 4,51 persen mengonfirmasi bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika transisi industri.

Menuju 2026 yang Stabil

Meski sempat melambat di awal tahun akibat faktor teknis pertambangan, NTB berhasil menutup 2025 dengan catatan positif. Pertumbuhan 3,22 persen adalah potret perjalanan satu tahun yang penuh tantangan, sementara 12,49 persen adalah simbol kebangkitan.

Kedepannya, tantangan pemerintah daerah adalah memastikan momentum pertumbuhan di akhir tahun ini tetap konsisten, inklusif, dan memberikan nilai tambah langsung bagi masyarakat luas. NTB kini tidak hanya sekadar tumbuh karena komoditas, tetapi sedang menata ulang arah ekonominya menjadi lebih mandiri dan berdaya saing. (Iba)