Beranda Uncategorized Gde Antik Lapor Polisi, Pelita Geram Siap Bela Masyarakat

[Polemik Gunung Tele] Gde Antik Lapor Polisi, Pelita Geram Siap Bela Masyarakat

8
0

Lombok Tengah, LF | Puluhan masyarakat yang kontra terkait aktifitas pertambangan batu yang berada di Gunung Tele Dusun Tawah, Desa Pengembur, Kecamatan Pujut.

Pasalnya masyarakat kecewa karena aktifitas tambang terus berlangsung, padahal beberapa minggu yang lalu sudah melakukan hearing di kantor desa untuk menutup tambang tersebut, akan tetapi sekarang masih saja berlangsung.

Kadus Tawah, Seriawan mengatakan, masyarakat melakukan pemberhentian paksa operasi alat berat yang berada di lokasi tambang karena warga kesal aspirasi yang pernah disampaikan di kantor desa beberapa minggu yang lalu tidak di indahkan.

“Aksi warga ini merupakan bentuk kekecewaan warga atas tidak diindahkannya protes mereka terhadap operasi tambang batu yang dinilai warga sangat berbahaya bagi warga di Lima dusun yakni Dusun Tawah, Semuli, Sepit, Bunut dan Dusun Seang. Jadi semua warga di lima dusun ini menyatakan menolak secara total tambang tersebut karena tidak melibatkan masyarakat dalam persetujuan izin,” ungkapnya saat ditemui di lokasi tambang kemarin.

Lalu Antik yang merupakan pemilik lokasi pertambangan tersebut merasa sangat kecewa atas tindakan yang dilakukan warga setempat, pihaknya menjelaskan akan melakukan tuntutan balik kepada oknum-oknum yang sudah merusak alat berat karena menyebabkan kerugian sekitar Rp.600 juta dan mengambil barang milik kariawnanya.

“Saya akan menuntut balik tindakan mereka yang sudah merusak pasilitas dan mengambil hak kariawan saya, mereka harus ganti rugi dan bertanggung jawab atas perusakan alat-alat berat ini. Hari ini juga saya bersama seluruh kariawan dan saksi mata akan mengahdap ke Kapolres bersama Kapolsek untuk menyelesaikan tuntutan dengan barang bukti yang ada,” bebernya.

Sementara itu, DPRD NTB Lalu Pelita Putra menanggapi persoalan itu mengatakan jangan menyelesaikan masalah dengan tangan besi atau diselesaikan melalui jalur hukum..

“Pembangunan dan korporasi yang menjadi bagian didalamnya, jangan bicara dengan masyarakat menggunakan tangan besi, tidak senua harus diselesaikan lewat jalur hukum. Bicarakan dulu baik-baik, jangan sampai karena ada aksi yang kemarin, lalu nanti ada yang akan masuk penjara, itu justru akan merepotkan kita semua.” ungkap Pelita. Sabtu, (4/1/2020).

Pelita mengatakan sudah jauh dari sisi humanis,  “Saya heran, kenapa sekarang kita semakin jauh saja dari sisi humanis ketika berkaitan dengan pembangunan. Saya berharap jika ada proses yang terlewati dalam pengurusan perizinan ijin sehingga masih ada yang menolak, diperbaiki dulu bangun komunikasi jangan sampai ada yang tersumbat. tapi kalau ada yang memilih main kayu, saya tetap akan berpihak terhadap warga.” Tutur Pelita DPRD NTB Fraksi PKB.

Pria yang dikenal dengan sebutan Mamiq Danu mengatakan sebaiknya lebih Arif dan bijak dalam bersikap.

“Biar bagaimanapun juga saya adalah salah satu dari wakil mereka di DPRD , lebih-lebih ini masyarakat di Dapil saya. Sebaiknya lebih arif dalam bersikap  , point yg ingin saya sampaikan mari kita sama2 mengedepankan komunikasi.” Tegasnya.

www.lombokfokus.com

Leave your vote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings