Beranda Uncategorized Puluhan Masyarakat Rusak Alat Berat, Lalu Antik Akan Tuntut Balik

Puluhan Masyarakat Rusak Alat Berat, Lalu Antik Akan Tuntut Balik

8
0

Keadaan alat berat proyek yang di rusak oleh puluhan masa yang menyerbu lokasi pertambangan, kemarin.
PUJUT- Puluhan masyarakat yang kontra terkait aktifitas pertambangan batu yang berada di Gunung Tele Dusun Tawah, Desa Pengembur, Kecamatan Pujut.

Pasalnya masyarakat kecewa karena aktifitas tambang terus berlangsung, padahal beberapa minggu yang lalu sudah melakukan hearing di kantor desa untuk menutup tambang tersebut, akan tetapi sekarang masih saja berlangsung.

Kadus Tawah, Seriawan mengatakan, masyarakat melakukan pemberhentian paksa operasi alat berat yang berada di lokasi tambang karena warga kesal aspirasi yang pernah disampaikan di kantor desa beberapa minggu yang lalu tidak di indahkan.

“Aksi warga ini merupakan bentuk kekecewaan warga atas tidak diindahkannya protes mereka terhadap operasi tambang batu yang dinilai warga sangat berbahaya bagi warga di Lima dusun yakni Dusun Tawah, Semuli, Sepit, Bunut dan Dusun Seang. Jadi semua warga di lima dusun ini menyatakan menolak secara total tambang tersebut karena tidak melibatkan masyarakat dalam persetujuan izin,” ungkapnya saat ditemui di lokasi tambang kemarin.

Lebih lanjut Seriawan menyatakan penolakan warga disebabkan karena penambangan ini merusak kelestarian alam yang dikhawatirkan akan menyebabkan bencana alam berupa banjir dan longsor. Selain itu, ada cagar budaya yang menurut warga sangat sakral yakni lokasi pertapaan bernama Batu Rantok.
“Intinya warga berkeinginan jangan lagi ada penambangan dan ditutup total,” tandasnya.

Perusakan alat berat terus dilakukan pemuda dan masyarakat yang menyerbu lokasi pertambangan tersebut, sehingga empat alat berat, eskavator dan stum penggilas dirusak massa. Sementara  kariawan yang sedang bekerja di pertambangan tersebut langsung melarikan diri guna mencari perlindungan. Sedangkan warga dan polisi yang berada di lokasi tak bisa berbuat banyak karena kalah jumlah.

Ditambahnya, Ishak selaku saksi mata yang sedang bekerja di proyek pertambangan tersebut mengakui, penyerangan terjadi sekitar pukul 03:00 WITA, aktifitas tambang sedang berlangsung dan tiba-tiba terdengar suara benturan dari belakang, ternyata ada puluhan orang yang berlari menuju lokasi pertambangan dengan membawa batu dan senjata tajam untuk merusak semua peralatan berat dan fasilitas kariawan di tenda pengungsian.

“Tiba-tiba mereka datang dari arah atas langsung melempar dan merusak seluruh alat berat yang sedang beroperasi, untung sopir-sopir kato segera keluar menyelamatkan diri ketika melihat orang pada beraksi merusak alat berat tersebut, kalau enggak lari kita yang sedang bekerja juga akan jadi sasaran,” ujarnya.

Diakuinya, penyerbu juga mengambil beberapa jumlah barang milik kariawan yang sedang bekerja yaitu satu unit hp andorid dan merusak fasilitas pengungsian seperti setrika, televisi dan laptop.
Sementara itu, Lalu Antik yang merupakan pemilik lokasi pertambangan tersebut merasa sangat kecewa atas tindakan yang dilakukan warga setempat, pihaknya menjelaskan akan melakukan tuntutan balik kepada oknum-oknum yang sudah merusak alat berat karena menyebabkan kerugian sekitar Rp.600 juta dan mengambil barang milik kariawnanya.
“Saya akan menuntut balik tindakan mereka yang sudah merusak pasilitas dan mengambil hak kariawan saya, mereka harus ganti rugi dan bertanggung jawab atas perusakan alat-alat berat ini. Hari ini juga saya bersama seluruh kariawan dan saksi mata akan mengahdap ke Kapolres bersama Kapolsek untuk menyelesaikan tuntutan dengan barang bukti yang ada,” bebernya.

Kades Pengembur, M. Sultan menyayangkan tindakan aksi masyarakat yang sudah bertindak anarkis. Karena sebelumnya ia sudah menghimbau dan menyarankan warga setempat apabila menolak proyek stone crusher tersebut untuk melakukan penolakan secara damai, kekeluargaan dan prosedural.
“Saya mendukung masyarakat melakukan penolakan dengan catatan secara baik-baik dan  kekeluargaan. Karena Itu adalah hak warga untuk menyampaikan aspirasi mereka, tapi sayang sekali perbuatan mereka sudah mengarah ke aksi anarkis dan penjarahan sehingga berkesan tidak terdidik dan akan mengarah ke tindak pidana,” ujarnya.

Sementara itu Herman mewakili Kapolres Praya membenarkan kejadian tersebut, perusakan alat berat dan terus berlanjut, tak ada yang bisa mengehentikan aksi tersebut karena masa membawa senjata tajam
“Kasus ini sudah ditangani polres, karena sudah masuk TKP, pemilik tambang juga sudah melapor ke polres dan akan menuntut balik kejadian ini, tapi pihak polres belum memberikan kejelasan, apakah kasus ini masuk penjarahan atau sekedar penyerangan. Selebihnya kita tunggu informasi selanjutnya,” tutupnya. (Bt)

www.lombokfokus.com

Leave your vote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings