Minta maaf, Ridwan Syah: sedikit pun tidak ada niat saya menghina lembaga dewan

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTB Ridwan Syah, Sabtu (4/9) di sela kunjungannya ke Sumbawa bersama Gubernur Zulkieflimansyah.

Mataram (Detikntbcom) – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, H Ridwansyah, menegaskan pihaknya tidak pernah melontarkan kata-kata yang mengandung unsur penghinaan atau Contempt of Parlement kepada Lembaga DPRD NTB.

“Gak ada saya lontarkan kata-kata seperti itu kepada Lembaga Dewan (Seperti kata baper, red.). Dan sedikit pun tidak ada niat saya menghina Lembaga Dewan yang terhormat ini. Tapi apapun itu, kalau ada yang tersinggung saya minta maaf,” ungkap pria yang dikenal sukses menjadi Komandan Lapangan event MXGP ini kepada wartawan, Rabu 29 Juni 2022.

Pihaknya mengaku sudah menghadiri rapat bersama Komisi IV DPRD NTB. “Dan Alhamdulillah permasalahan soal itu sudah clear dan sudah tidak ada masalah lagi,” ujar pria yang dikenal energik ini.

Selain menghadiri undangan rapat bersama Komisi IV, pihaknya juga mengaku sudah menghadiri rapat bersama dengan Komisi I DPRD NTB dan ditanyakan soal keterlibatan ASN dalam kegiatan MXGP Samota.

“Sudah saya jelaskan bahwa kegiatan MXGP itu murni bussiness to bussiness (B to B). Adapun adanya keterlibatan pemerintah dalam kegiatan itu, jelas dong bahwa sesuai dengan amanat Undang-undang, bahwa pemerintah harus memberikan fasilitasi dalam fungsi pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Apalagi Samota itu masuk kedalam kawasan strategis provinsi dan itu tertuang dalam RPJMD dan RTRW,” terang pria yang akrab disapa Dae Iwan ini.

Dengan adanya keterlibatan pemerintah dalam kegiatan MXGP itu, menurutnya, kawasan tersebut akan menjadi berkembang.

“Jadi kita ASN itu tidak terlibat dalam teknis penyelenggaraannya. Dan juga tidak ada APBD yang kami pergunakan. Meskipun ada SK Kepanitiaan yang diterbitkan, tapikan tugasnya melaksanakan fungsi sesuai tupoksi misalnya, PU tugasnya memelihara jalan, mau ada SK atau tidak, tetap tugasnya PU adalah memelihara jalan.

Selain itu ada tugas koordinasi misalnya melakukan koordinasi dengan Balai Jalan untuk memperbaiki jalan karena adanya event tersebut.

Pihaknya juga mengaku keberadaannya dalam event tersebut sama seperti ketika penyelenggaraan MotoGP Mandalika, dimana dirinya juga ditunjuk selaku Komandan Lapangan yang bertugas untuk memfasilitasi kelancaran kegiatan tersebut. Jadi urusan menyangkut anggaran teknisnya, pihaknya mengaku tidak mengetahuinya.

“Berapa besar anggarannya dalam pelaksaan event itu, kita juga tidak tau. Karena kami tidak terlibat dalam urusan teknisnya,” timpalnya lagi.

Ditegaskannya, tugas pemerintah adalah melakukan fasilitasi dengan sejumlah pihak demi kelancaran kegiatan tersebut. Seperti memfasilitasi kebutuhan air di.lokasi sirkuit dengan PDAM, begitu pun dengan kebutuhan listriknya dengan PLN, dan jaringan internetnya dengan pihak PT Telkom.

“Dan yang membayar semua kebutuhan itu adalah PT SEG sendiri dengan sejumlah pihak tersebut. Karena ini prinsipnya B to B. Maka PT SEG lah yang membayar semua kebutuhan dalam pelaksanaan kegiatan itu. Termasuk membiayai pembangunan sirkuitnya itu adalah kewajibannya PT SEG.

Berapa besar angaran yang dikeluarkan dalam membangun sirkuit itu, saya sendiri tidak mengetahuinya. Tugas kami hanya mengawasi dan memantau aja,” ungkap Dae Iwan.

Keterlibatan pemerintah menurutnya hanya bersifat koordinatif aja. Kenapa? menurut pejabat senior Pemprov NTB ini dikarenakan kepentingan Pemprov sangat besar untuk mempromosikan NTB ke kancah dunia.

“Kepentingan kita jelas dalam kegiatan MXGP ini. Karena kalau event ini sukses digelar maka dunia tentu akan mengenal daerah kita. Apalagi kalau ini sukses mereka akan menetapkan event ini selama lima (5) tahun kedepannya.

Nah kalau lima tahun digelar, maka bisa kita gelar di Bima atau di KSB, sehingga ada pemerataan ekonomi. Dan dimasa pandemi ini, kita harus memiliki cara untuk membuat ekonomi kita bangkit. Nah kita punya pengalaman menggelar MotoGP dimana uang yang beredar di masyarakat itu sebesar Rp6 trilyun. Hal yang sama juga terjadi dalam pelaksanaan MXGP tersebut,” terangnya.

Pelaksanaan MXGP Samota diakuianya berjalan sukses. Diperkirakan 50 ribu orang memadati Rocket Sirkuit Samota tempat acara itu digelar.

“Saya tidak menyangka animo masyarakat cukup besar dalam menonton MXGP. Bahkan jauh lebih besar dari orang yang menonton MotoGP. Ada sekitar 50 ribu orang yang datang menonton langsung.

Informasi yang saya dapat sekitar 40 ribuan tiket terjual habis karena selain orang menonton MXGP, orang yang datang juga tertarik menonton konser musik. Setahun menghadapi masa pensiun, saya cukup bangga bisa mempersembahkan ini bersama duet Zul-Rohmi untuk NTB Gemilang,” pungkasnya dengan nada bangga. (Iba)