Cerita PMI NTB di Malaysia, bisa bangun rumah, beli tanah hingga sekolahkan anak

Belasan warga Bima menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia di perusahaan Koperasi Ladang Berhard (KLB) saat berbincang dengan awak media di perumahannya, Rabu 13 Juli 2022.

Malaysia (Detikntbcom) – Sempitnya lowongan pekerjaan di kampung halaman menjadi salah satu jalan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) khususnya warga Nusa Tenggara Barat untuk mencari jalan lain berjuang menghidupi ekonomi keluarganya.

Jalan keluar yang mereka ambil salah satunya adalah dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

Di negeri orang mereka berjuang, bekerja penuh semangat berharap hasilnya bisa mengangkat martabat keluarganya di kampung halaman mereka.

Selain itu berharap bisa membangun rumah, membeli tanah hingga bisa menyekolahkan anak-anak mereka yang ditinggalkan di kampung juga sedikit tabungan untuk hari tuanya.

Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi saat berfoto dengan para pekerja Migran di Johor Baru Malaysia saat rangkaian kunjungan kerjanya pada Rabu 13 Juli 2022.

Benar kata banyak orang, para PMI ini merupakan pahlawan devisa bagi bangsa. Mereka menjadi pahlawan sesungguhnya bagi negara dan ekonomi keluarganya di kampung halaman.

Cerita tersebut diutarakan oleh salah satu pahlawan devisa asal Desa Karumbu Kabupaten Bima Sudarmin, yang bekerja di perusahaan sawit Koperasi Ladang Berhard (KLB) Johor Baru Malaysia.

Di Negeri Upin Ipin tersebut, Sudarmin sudah bekerja hampir puluhan tahun, dari awal masuk tahun 1999 pasca reformasi atau tepat pada saat kerusuhan Sambas.

Darmin bekerja di KLB sudah hampir 4 tahun dengan posisi Mandor dengan gaji RM4000 atau sekitar Rp13 juta rupiah per bulannya (kurs hari ini Rp3.397,48). Dengan gaji sebesar itu, Darmin bisa membiayai sekolah anaknya yang tengah kuliah di salah satu kampus di Makassar. Selain itu Darmin juga bisa membangun rumah hingga membeli tanah di kampungnya.

“Alhamdulillah dengan gaji itu saya bisa menyekolahkan anak saya, bangun rumah juga beberapa tanah hasil dari perjuangan di sini,” bebernya dengan nada terbata-bata penuh haru sesekali mengungkap kerinduannya ingin pulang kampung saat sejumlah awak media melakukan serangkaian kunjungan kerja di perusahaan sawit KLB, Rabu 13 Juli 2022 di Johor Baru Malaysia.

Pria tiga anak ini tidak sendiri, dia juga mengajak istrinya bekerja di ladang sawit. Meskipun gaji istrinya sedikit namun pihaknya tetap bersyukur bisa membahagiakan orang-orang di sekitarnya khusus untuk keluarganya.

Sebelum ke Malaysia, pihaknya hanya butuh tani, berladang juga menjadi tukang kayu yang gajinya tidak seberapa. Kini, dengan dia bekerja di Malaysia, untuk sebulan dia bisa mengirim ke kampungnya Rp5-6 juta rupiah. Ada sekitar 15 orang PMI asal Bima yang bekerja di KLB masing-masing memasuki tahun ke empat.

Cerita lain yang hampir sama juga disampaikan Imam Suhardin, sang mandor juga ketua TKI di KLB. Dengan gaji hampir RM4000 Ringgit Malaysia. Imam menceritakan jika dirinya senang jadi PMI di Malaysia khususnya bekerja di Koperasi Ladang Berhard Johor Baru.

Pria anak satu ini bercerita, bahwa perusahaan tempatnya bekerja ini menjamin kesehatan, keselamatan dan tempat tinggal layak pagi para pekerja. Jika pekerja sakit, perusahaan akan menanggung semua biayanya.

“Saya sangat senang bekerja di sini. Gaji saya lebih dari cukup memuaskan hati,” kata pria asal kampung Sarae Kota Bima ini di hadapan Kepala Disnakertrans NTB I Gde Putu Aryadi, Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi dan sejumlah pejabat KLB.

Dengan gajinyang cukup itu bebernya, dia bisa bangun rumah, sekolahkan anak hingga beberapa titik tanah yang dibelinya hasil kerjanya di KLB.

Selain ada yang gajinya RM4000 Ringgit, ada juga yang gajinya jauh lebih besar jika dirupiahkan sekitar Rp25 juta rupiah per bulan atau RM7.200 Ringgit. Namanya Khairil asal Desa Karumbu Kabupaten Bima.

Pria berambut gondrong ini bekerja harian lepas sebagai pemetik buah sawit. Asetnya di kampung katanya lumayan banyak karena hasil kerja sawit.

Khairil tidak banyak bicara, dia lebih banyak bekerja dalam sunyi di tengah ribuan hektar ladang sawit di Koperasi Ladang Berhard.

Perekrutan PMI Jalur Resmi Gratis

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pekerja Migran Indonesia (APPMI) Muazzim Akbar memastikan tidak ada pungutan biaya dalam perekrutan PMI melalui jalur resmi ketetapan pemerintah.

“Jalur resmi kami jamin gratis, seluruh perusahaan (perekrut PMI) sekarang wajib menggratiskan untuk ke Malaysia. Beda kalau ilegal, itu yang malah berbayar,” kata Muazzim Akbar di Johor.

Ia pun meyakinkan, usai Pemerintah Indonesia dengan Malaysia menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) perihal penempatan dan perlindungan PMI di Malaysia, seluruh prosedur birokrasi kini sudah transparan dengan memanfaatkan sarana daring (online).

“Sekarang semua birokrasi itu harus melalui sistem online. Memang butuh proses, satu sampai dua bulan. Harus sudah ‘medical check-up’, paspor, dan syarat lain dari perusahaan perekrut misalnya,” ujar dia.

Meskipun ada prosedur kelengkapan persyaratan, namun Muazzim meyakinkan kepada calon PMI bahwa itu bentuk perhatian Pemerintah Indonesia perihal kelangsungan hidup para pahlawan devisa di luar negeri, khususnya di Malaysia.

“Jadi prosedur itu bagian dari upaya pengawasan dan perlindungan negara bagi rakyatnya yang bekerja di luar negeri,” ucapnya.

Bahkan jika melalui jalur resmi, tentu pemerintah sudah menjamin kualifikasi dari Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) dan Perusahaan perekrut PMI di Malaysia.

Seperti hasil pantauan APPMI bersama Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB dan DPRD NTB ke salah satu ladang perkebunan sawit di Johor, Malaysia, milik Koperasi Ladang Berhad.

Menurut Muazzim, pihak perusahaan sudah sesuai dengan hasil kualifikasi pemerintah yang telah menyediakan fasilitas penunjang bagi para PMI, mulai dari proses perekrutan, menetap di areal perkebunan, hingga pemulangan ke Indonesia.

“Gaji saja sebulan bisa tembus sampai Rp25 juta. Rumah, beserta isi, sarana kesehatan, dan yang lain itu juga disiapkan. Itu kan bagus,” kata Muazzim. (Iba)