Detikntbcom – Pemerintah Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, kembali akan menggelar Festival Sangiang Api (FSA) 2026 pada akhir Agustus 2026. Festival tahunan tersebut diproyeksikan menjadi panggung besar untuk memperkenalkan sejarah, budaya, serta potensi wisata Pulau Sangiang kepada masyarakat Indonesia hingga dunia internasional.
Kepala Desa Sangiang, Arasid H. Imran, mengatakan penyelenggaraan FSA 2026 akan mengusung konsep perpaduan antara festival budaya, sejarah, wisata, dan edukasi. Berbagai atraksi khas masyarakat pesisir akan ditampilkan, mulai dari lomba sampan layar tradisional, lomba dayung, pertunjukan seni budaya, pameran tenun khas Sangiang, demonstrasi pembuatan kapal tradisional, bazar UMKM, festival kuliner lokal, pertunjukan musik tradisional, hingga kegiatan edukatif yang melibatkan pelajar, mahasiswa, pemuda, dan masyarakat.
“Seluruh rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya kami hadirkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi untuk memperkenalkan identitas Pulau Sangiang sebagai kawasan yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan peradaban maritim yang telah tumbuh selama berabad-abad,” ujar Arasid.
Menurutnya, Festival Sangiang Api bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan ruang bersama untuk merawat memori kolektif masyarakat, menghidupkan kembali warisan leluhur, sekaligus memperkenalkan Pulau Sangiang sebagai kawasan yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan penting di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi menyukseskan festival tersebut, mulai dari Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Bima, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, hingga masyarakat luas.
“Festival ini adalah milik kita bersama. Kami berharap seluruh pihak dapat memberikan dukungan sehingga Festival Sangiang Api terus berkembang menjadi agenda budaya yang membanggakan daerah,” katanya.
Arasid juga mengundang seluruh putra-putri Sangiang yang berada di berbagai daerah, seperti Jakarta, Mataram, Makassar, Kalimantan, dan wilayah lainnya, agar ikut berkontribusi melalui promosi, koordinasi, dukungan moril, maupun doa demi suksesnya penyelenggaraan FSA 2026.
Menelusuri Sejarah Pulau Sangiang
Melalui Festival Sangiang Api, masyarakat tidak hanya akan disuguhi pertunjukan budaya, tetapi juga diajak menelusuri perjalanan panjang Pulau Sangiang, mulai dari sejarah letusan Gunung Sangiang Api, budaya maritim, perpindahan masyarakat pascaerupsi, hingga jejak masuk dan berkembangnya Islam di kawasan tersebut.
Arasid menjelaskan bahwa Gunung Sangiang Api merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah masyarakat Pulau Sangiang. Letusan gunung pada masa lalu tidak hanya membentuk bentang alam vulkanik yang unik, tetapi juga mengubah kehidupan masyarakat yang sebagian harus meninggalkan kampung halaman dan menyebar ke berbagai wilayah di Pulau Sumbawa maupun daerah lain di Indonesia.
“Di balik peristiwa itu tersimpan kisah tentang ketangguhan masyarakat Sangiang. Mereka mampu bangkit, membangun kehidupan baru, namun tetap menjaga identitas budaya, adat istiadat, serta ikatan kekeluargaan. Sejarah inilah yang ingin kami ceritakan kepada generasi muda dan masyarakat luas melalui Festival Sangiang Api,” ungkapnya.
Jejak Islam dan Peradaban Maritim
Festival ini juga akan mengangkat sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Pulau Sangiang yang sejak dahulu dikenal sebagai salah satu titik persinggahan penting di jalur pelayaran Nusantara. Posisi geografisnya yang strategis menjadikan pulau tersebut ramai disinggahi pelaut dan saudagar dari berbagai daerah, seperti Jawa, Sulawesi, Maluku, Bali, hingga pedagang dari Arab dan kawasan Asia lainnya.
Melalui aktivitas perdagangan dan pelayaran itulah terjadi pertukaran budaya, ilmu pengetahuan, serta nilai-nilai keagamaan yang kemudian menjadi salah satu jalur berkembangnya syiar Islam di Pulau Sangiang. Nilai-nilai Islam tumbuh berdampingan dengan budaya lokal dan membentuk karakter masyarakat yang religius, terbuka, serta menjunjung tinggi semangat gotong royong dan persaudaraan.
Sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah, seluruh narasi mengenai perjalanan Pulau Sangiang akan didokumentasikan melalui buku referensi dan novel karya putra-putri Sangiang yang telah diterbitkan.
“Kami berharap karya-karya tersebut menjadi media edukasi sekaligus dokumentasi sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” kata Arasid.
Melestarikan Warisan Budaya
Selain sejarah, FSA 2026 juga akan memperkenalkan berbagai warisan budaya yang masih lestari, seperti tradisi pembuatan kapal kayu secara turun-temurun, tenun khas Sangiang, cerita rakyat, kearifan lokal masyarakat pesisir, hingga keberadaan Nakara Makalamu, artefak perunggu yang menjadi salah satu jejak penting peradaban awal di Pulau Sangiang dan memiliki nilai historis tinggi.
“Melalui Festival Sangiang Api kami ingin menyampaikan kepada Indonesia bahkan dunia bahwa Sangiang bukan hanya memiliki panorama alam yang indah. Pulau ini menyimpan kisah besar tentang letusan gunung api, perpindahan masyarakat, budaya maritim, perkembangan Islam, serta berbagai warisan budaya yang masih hidup hingga sekarang. Semua itu merupakan kekayaan sejarah yang harus dijaga, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” jelasnya.
Arasid menambahkan, FSA 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi peneliti, budayawan, sejarawan, pegiat pariwisata, akademisi, dan masyarakat untuk bersama-sama mendokumentasikan, mengkaji, serta mempromosikan kekayaan sejarah dan budaya Pulau Sangiang sebagai bagian dari warisan bangsa.
Festival Sangiang Api sebelumnya telah masuk dalam Kalender Event Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada penyelenggaraan terdahulu, festival ini juga diajukan sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata sebagai upaya menjadikan FSA sebagai salah satu agenda budaya unggulan tingkat nasional.
Pemerintah Desa Sangiang berharap FSA 2026 menjadi momentum kebangkitan pariwisata berbasis sejarah, budaya, dan edukasi sekaligus memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap identitas Pulau Sangiang.
“Festival Sangiang Api bukan sekadar perayaan budaya. Ini adalah panggung untuk menceritakan siapa masyarakat Sangiang kepada dunia; tentang sejarah yang kami miliki, budaya yang kami jaga, dan masa depan yang ingin kami bangun bersama. Mari kita sukseskan Festival Sangiang Api 2026,” tutup Arasid Imran. (Iba)












