Detikntbcom — Anggota DPR RI Muazzim Akbar menekankan pentingnya edukasi keluarga, pemenuhan gizi ibu dan anak, serta pencegahan pernikahan dini untuk menekan angka stunting di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Hal itu disampaikan Muazzim saat menggelar Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) bersama mitra kerja di Lapangan Futsal Trisna, Kota Mataram, Senin (12/10/2026).
Muazzim mengatakan, penanganan stunting menjadi salah satu fokus pemerintah yang membutuhkan keterlibatan lintas kementerian dan partisipasi aktif masyarakat, terutama dalam membangun kesadaran tentang pentingnya gizi dan kesehatan sejak masa kehamilan.
Menurut dia, pencegahan stunting harus dimulai sejak dini, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
“Karena angka stunting itu bisa kita kurangi, itu dari sejak usia kehamilan sampai maksimal usia bayi lima tahun, atau seribu hari pertama. Ya, dua tahun, usia bayi dua tahun,” kata Muazzim.
Ia menjelaskan, periode tersebut merupakan fase penting dalam pertumbuhan anak. Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita harus menjadi perhatian bersama agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Muazzim mengingatkan, penanganan stunting tidak cukup dilakukan melalui program pemerintah. Edukasi kepada keluarga mengenai pola makan bergizi, kesehatan ibu dan anak, serta pola pengasuhan juga perlu diperkuat.
Menurut dia, berbagai program pemenuhan gizi yang dijalankan pemerintah harus berjalan beriringan dengan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan stunting.
“Jadi semua kementerian sekarang, baik dari Badan Gizi Nasional, Kementerian Bappenas, Kementerian Kesehatan, bekerja sama untuk mengatasi angka stunting ini,” ujarnya.
Pernikahan Dini Jadi Perhatian
Selain persoalan gizi, Muazzim menyoroti pernikahan dini sebagai salah satu isu yang perlu mendapat perhatian dalam upaya membangun keluarga sehat dan berkualitas.
Ia menilai, perkawinan pada usia terlalu muda berpotensi menimbulkan risiko bagi kesehatan ibu dan anak, terutama apabila kehamilan terjadi ketika kondisi fisik dan kesiapan reproduksi belum optimal.
Karena itu, menurut dia, sosialisasi kepada masyarakat perlu mencakup pemahaman mengenai usia ideal perkawinan, kesehatan reproduksi, serta kesiapan fisik dan mental dalam membangun rumah tangga.
Muazzim juga menyinggung perlunya peran pemerintah daerah dalam mendukung upaya pencegahan pernikahan dini melalui kebijakan dan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ia mengatakan, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu dilibatkan agar edukasi keluarga dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Menuju Generasi Sehat dan Berkualitas
Muazzim menegaskan, upaya menurunkan stunting merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Menurut dia, generasi yang sehat dan berkualitas harus dipersiapkan sejak awal melalui pemenuhan gizi, peningkatan kesadaran kesehatan, serta penguatan ketahanan keluarga.
Melalui sosialisasi Program Bangga Kencana, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pencegahan stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, melainkan juga berkaitan dengan pertumbuhan, perkembangan, dan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Ia berharap, kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan stunting di NTB, sehingga anak-anak memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal. (Iba)












