Detikntbcom — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Evi Apita Maya, memperkuat pendidikan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda melalui sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Pondok Pesantren Darul Hikmah, Pagutan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (30/9).
Kegiatan yang diikuti ratusan santri dan tenaga pendidik tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman tentang Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.
Evi menegaskan, sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan penting dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara tetap tertanam kuat di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.
“Untuk mengingatkan kembali esensi dari Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika,” jelas Evi Apita Maya.
Menurut dia, pondok pesantren memiliki peran strategis dalam perjalanan sejarah bangsa, mulai dari perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan kedaulatan, hingga mengisi pembangunan nasional.
Karena itu, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, penanaman nilai nasionalisme, dan penguatan komitmen kebangsaan.
“Pondok pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga rahim lahirnya para pejuang bangsa. Nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan sudah mendarah daging di pesantren. Tugas kita bersama adalah terus merawat dan menjaganya di tengah dinamika zaman,” ujarnya.
Santri Jadi Penjaga Kebinekaan
Evi juga mengajak para santri untuk mengambil peran aktif dalam menjaga persatuan dan merawat keberagaman di tengah masyarakat. Menurutnya, pemahaman kebangsaan yang kuat diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
Para santri diharapkan mampu menjadi generasi yang terbuka, moderat, serta memiliki pemahaman keagamaan yang sejalan dengan semangat persatuan dan cinta tanah air.
Di tengah perkembangan teknologi digital, Evi mengingatkan bahwa derasnya arus informasi menuntut generasi muda untuk lebih cermat dalam menerima dan menyebarkan informasi.
Tanpa kemampuan menyaring informasi secara kritis, ruang digital berpotensi menjadi saluran penyebaran hoaks, intoleransi, dan paham radikal yang dapat mengancam kerukunan sosial.
Oleh karena itu, santri didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga agen perubahan yang mampu menyebarkan pesan perdamaian, memperkuat toleransi, dan menghadirkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ’alamin.
Pesantren dan Penguatan Karakter Bangsa
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Hikmah menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Kegiatan ini dinilai memberikan ruang bagi santri dan tenaga pendidik untuk memperdalam pemahaman mengenai nilai-nilai kebangsaan sekaligus memperkuat karakter generasi muda.
Pihak pesantren berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan, sehingga wawasan kebangsaan tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Iba)










