Oleh: Adhar Malaka*
Detikntbcom – Ada hal yang seringkali luput kita sadari ketika berbicara tentang pembangunan. Kita begitu fokus pada wujud fisik dari infrastruktur jalan, jembatan, gedung, irigasi sehingga lupa bahwa setiap keputusan pembangunan sejatinya adalah cermin dari cara pandang pemimpin terhadap rakyatnya.
Hari ini, ketika rekonstruksi ruas jalan Simpang Tano–Simpang Seteluk dengan nilai kontrak Rp32,5 miliar resmi dimulai, kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar pengecoran aspal baru.
Kita menyaksikan bagaimana kepemimpinan diuji bukan hanya di bilik suara saat pemilu, melainkan pada keberanian untuk menempatkan keselamatan dan kebutuhan rakyat di atas segala kalkulasi politik.
Pembangunan Bukan Hadiah Politik
Jalan di kawasan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, selama bertahun-tahun menjadi momok. Rusak, membahayakan, dan menelan korban kecelakaan. Warga berkali-kali mendengar janji, namun selalu berakhir dengan kekecewaan. Kini janji itu ditepati, meski ironisnya, mayoritas masyarakat di daerah tersebut bukanlah bagian dari “konstituen politik” pemerintah yang sekarang berkuasa.
Inilah poin penting yang patut digarisbawahi. Pembangunan tidak boleh dipandang sebagai hadiah bagi pendukung, atau hukuman bagi yang berbeda pilihan. Jalan adalah hak rakyat, bukan milik kelompok politik tertentu.
Dengan memperbaiki jalan ini, pemerintah provinsi sedang mengirim pesan moral yang amat kuat: bahwa kepemimpinan sejati menolak untuk terjebak dalam dendam politik.
Kepemimpinan yang Menggunakan “Hati”
Sering kita mendengar jargon bahwa “pemerintah hadir untuk semua.” Tetapi jarang kita temui praktik yang konsisten membuktikan jargon tersebut. Perbaikan jalan Poto Tano adalah salah satu contohnya. Ia adalah keputusan yang lahir dari keberanian moral, bukan dari strategi elektoral.
Di sinilah kita melihat apa arti kepemimpinan dengan hati. Pemimpin yang baik tahu bahwa membangun jalan bukan sekadar memuluskan aspal, melainkan menghubungkan kehidupan. Jalan itu menghubungkan desa dengan kota, nelayan dengan pasar, pelajar dengan sekolah, pasien dengan rumah sakit. Jalan itu adalah nadi ekonomi dan urat nadi keselamatan rakyat.
Simbol Harapan dan Keadilan
Maka, jangan kita pandang proyek ini sekadar angka Rp32,5 miliar atau durasi pengerjaan 105 hari kerja. Jalan ini adalah simbol harapan. Bahwa pemerintah masih bisa menuntaskan janji lama. Bahwa luka akibat kebijakan masa lalu bisa disembuhkan. Bahwa pembangunan tidak ditentukan oleh warna bendera partai, tetapi oleh keadilan dan kebutuhan nyata rakyat.
Apakah langkah ini akan mengubah peta politik di masa depan? Mungkin iya, mungkin tidak. Tetapi yang pasti, ia mengubah cara pandang masyarakat terhadap makna kepemimpinan. Dan bagi saya, itu jauh lebih penting.
Mari Kita Menjaga Persatuan
Akhirnya, pembangunan seperti ini hanya akan berkelanjutan jika kita menjaga persatuan. Jika setiap kelompok masyarakat sibuk menghitung untung-rugi politik, maka proyek pembangunan akan selalu rentan terhenti di meja perdebatan. Tetapi jika kita sepakat bahwa keselamatan dan kesejahteraan rakyat adalah tujuan utama, maka siapa pun pemimpinnya, pembangunan akan berjalan.
NTB sedang bergerak maju. Jalan Poto Tano adalah salah satu buktinya. Mari kita dukung bersama, dengan semangat kolektif, agar masa depan NTB benar-benar dibangun di atas keadilan, persatuan, dan keberanian untuk menuntaskan janji-janji lama.
*Penulis adalah aktivis yang juga orang dekat Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal
Editor: Ibrahim Bram Abdollah












