Rektor UIN Mataram mendukung SE Menag 5/2022 tentang pengeras suara masjid

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram juga Ketua PW NU NTB Prof Masnun Tahir usai melaksanakan pelantikan Pengurus Cabang NU se-NTB pada, Sabtu (26/2) kemarin di kantor PW NU NTB.

Mataram (Detikntbcom) – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Prof Masnun Tahir angkat bicara tentang Surat Edaran Menteri Agama Republik Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pengaturan Pedoman Penggunaan Pengeras suara di Masjid dan Musalla.

Menurut Ketua PW Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat ini, sejak dikeluarkannya SE Menag RI tersebut menuai banyak argumentasi publik, ada yang menghina, melakukan gerakan provokasi serta ada juga yang memotong video Menteri Agama Yaqus Cholil Qoumas tersebut.

“Mari kita fahami secara utuh dan cermati pesan substantif dari Surat Edaran tersebut. SE itu bukan yang baru tetapi kesinambungan dari SE yang pernah dikeluarkan oleh Menteri sebelumnya,” katanya seperti siaran pers diterima, Minggu (27/2) di Mataram.

Hal ini katanya, sebagai prakondisi dalam rangka pencanangan tahun toleransi. Substansinya baik karena mengatur penggunaan pengeras suara di masjid dan musalla untuk kemaslahatan bersama, bukan melarang sebagaimana sebagian narasi yang berkembang.

“Pengaturan ini perlu untuk menjaga harmoni dan demi kemaslahatan bersama. Kita hidup di negara bangsa yg plural dengan berbagai macam agama, kepercayaan, adat, budaya, suku, dan perbedaan lainnua yang membutuhkan kearifan bersama dan kesalehan sosial yg terus terjaga,” ujarnya.

Menurut Guru Besar UIN Mataram itu, ada dimensi yuridis, filosofis dan sosiologis dalam SE tersebut. Tugas kita katanya memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Kebebasan masyarakat dibatasi oleh kebebesan orang lain (hurriyatuka mahdudun bi hurriyyatika gairika), agar hidup ini harmoni dan dilandasi regulasi ilahi dan aturan insani.

“Kita tidak mengedepankan ego individu semata, karena kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk di Indonesia, apalagi seperti di NTB ini,” cetusnya.

Oleh karena itu, pihaknya sangat mendukung Menteri Agama RI mengeluarkan SE itu, karena maqashidnya untuk kemaslahatan bersama. Karena menurutnya di banyak negara dan komunitas itu sudah diberlakukan.

“Mari kita terima, kita sosialisasikan dan tentunya kita wujudkan dalam hubungan sosial kita di tengah masyarakat. Saya juga sampaikan, kalau ada yang tidak sependapat dengan isi Surat Edaran itu, berikan argumentasi bil hikmah wal mauizatil Hasanah sebagaimana pesan suci dalam al-Qur’an. jangan mengedepan emosi apalagi sampai berlebihan,” ajaknya.

Menurutnya, Menag RI sangat terbuka dengan diskusi, karena dianggap tokoh toleransi dan moderasi yang memang sejak awal diamanahkan menjadi Menteri, langsung mendeclare visi moderasi dan toleransi serta yang sering disampaikannya, agama sebagai inspirasi.

“Saya sering katakan, kita jaga harmoni ini dengan regulasi, kearifan tradisi dan sering ngopi. Tentunya semuanya itu dalam makna yang luas. Jangan mengedepankan emosi apalagi anarkhi, jangan hobinya mereduksi apalagi memprovokasi. Insya Allah damai di hati dan di Bumi,” pungkasnya. (Iba)