Event MXGP di Samota dipastikan menggerakkan seluruh sektor bangkitkan ekonomi

Ketua Komisi III DPRD NTB Sambirang Ahmadi (Ist)

Mataram (Detikntbcom) – Ketua Komisi III DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sambirang Ahmadi memprediksikan bahwa kehadiran MXGP Samota bakal memberikan dampak yang besar khususnya bagi daerah dan masyarakat umumnya di Pulau Sumbawa, NTB. Karena berdasarkan kacamatanya, kehadiran event dunia itu menjadi momen kebangkitan.

Baik itu dari sisi pergerakan sektor pariwisata, perekonomian, jasa transportasi, perhotelan/penginapan, kuliner atau UMKM dan lainnya akan ikut bergerak semua.

“Pasti berdampak. Dan saya kira sektor-sektor lain akan ikut beradaptasi dengan momentum ini. Karena pasti akan terjadi dengan sendirinya. Jadi kalau ada salah satu momentum ekonomi yang berkelas dunia otomatis akan diikuti oleh pergerakan sektor-sektor yang lain,” tegas Sambirang Ahmadi dari Dapil V Sumbawa-KSB ini, Rabu (2/3) di Mataram.

Sekretaris Fraksi PKS NTB itu mengumpamakan, karena dimana ada kumpulan manusia, maka tentu pasti membutuhkan hal lainnya.

Contoh seperti makan dan minuman pada saat event berlangsung. Kemudian soal penginapan dan lain sebagainya. “Otomatis (bergerak dengan sendirinya),” kata pria yang kerap disapa Ustadz Sam ini.

Setelah sempat berada di dapilnya pada saat reses belum lama ini, Ketua Komisi III DPRD NTB itu mengaku bahwa saat ini di Sumbawa sedang dalam proses pemantapan. “(Terkait kesiapan menjelang MXGP di Samota) semua sedang dalam proses menuju kematangan kesiapan,” ucap politisi muda PKS ini.

Tak hanya itu, berdasarkan pengamatannya sejauh ini, Pemda Sumbawa juga terus melakukan berbagai ikhtiar demi terlaksana dan mensukseskan MXGP ini. “Pemda saya amati sudah terus melakukan konsolidasi internal. Kemudian membangun komunikasi intens dengan pemilih lahan yang akan digunakan sebagai tempat pelaksanaan event MXGP,” akunya.

Informasi diperolehnya berkaitan dengan lahan dikawasan Samota yang disiapkan itu mencapai 40 hektare. “Saya mendapat informasi lahan yang disiapkan itu sekitar 40 hektare,” kata Sambirang. “Sejauh ini relatif tidak ada masalah persoalan lahan. Karena pemilik lahanpun senang kalau lahannya digunakan untuk event MXGP,” tambahnya lagi.

Berbagai harapan sempata mencuat. Dimana kedepan lahan ini diharapkan bisa menjadi lahan pemerintah. Oleh karenanya, Pemda dirasakan perlu melakukan konsolidasi anggaran. “Supaya bisa mengakuisisi lahan milik masyarakat sebagai lahan pemerintah,” kata mantan anggota DPRD Kabupaten Sumbawa tersebut.

Apabila kedepan lahan itu telah jadi milik pemerintah, menurut dia akan banyak hal positif nantinya yang akan dirasakan. Terutama support langsung dari pihak pusat. “Kedepannya kita harapakan, kalau sudah jadi lahan pemerintah lebih mudah mendaptkan bantuan anggaran, fasilitas dan support lainnya dari pemerintah pusat,” katanya memberikan gambaran.

Meski demikian, Sambirang mengaku belum mengetahui secara pasti berapa nilai perhektarenya lahan dikawasan tersebut kalaupun nantinya akan dibayar oleh pemerintah. “Kita belum tahu nilai apraisalnya disekitar itu. Tapi, kalau (misalnya) satu (1) hektare asumsinya satu (1) miliar rupiah berarti kurang lebih Pemda harus menyiapkan anggaran sebesar empat puluh (40) miliar rupiah,” terangnya.

Lebih jauh dikatakan Sambirang Ahmadi, MXGP harus terus berlanjut layaknya event MotoGP di Lombok. Bila perlu, sambungnya, MXGP dapat masuk dan ditetapkan dalam kalender tahunan. Dengan masuknya MXGP dalam kalender tahunan, diyakini akan memberikan dampak besar secara berkelanjutan kedepannya.

“Kita berharap tidak berlangsung satu kali saja. Harus terus berlanjut, apalagi (Event MXGP) bisa masuk menjadi kalender tahunan,” katanya. “Karena kalau sudah ditetapkan menjadi kalender tahunan, maka tentu akan ada multiplier effectnya. Akan ada bangunan, properti, pusat perdagang dan lainnya disekitar itu,” sambung Sambirang.

Sambirang juga menegaskan event MXGP adalah sebuah peluang yang harus mampu ditangkap dan dimanfaatkan masyarakat. Terutama dari kalangan pemuda atau milenial. Oleh karenanya, dalam menyambut sekaligus menyukseskan event ini, para milenial khususnya yang berada di Sumbawa diharapkan tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri.

“Saya kira (peran para pemuda sumbawa) penting. Karena ini kesempatan buat milenial, bukan hanya untuk menonton, tetapi harus mampu mengeksplore,” kata Sambirang.

“Mungkin dalam menyajikan kreasi-kreasi yang bisa mereka jual diperdagangkan disitu. Termasuk juga mereka bisa menjadi tour guide kalau ada penonton dari luar yang ingin melihat destinasi-destinasi (Pulau Sumbawa). Banyak peluang yang bisa dimanfaatkan,” pungkasnya. (Iba)