Kondisi APBD NTB 2022 diklaim kurang sehat

Wakil Ketua DPRD NTB Fraksi Gerindra Mori Hanafi ditemui di ruang kerjanya, Kamis (7/3) di Mataram.

Mataram (Detikntbcom) – Kondisi APBD Provinsi NTB saat ini tidak dalam baik-baik saja. Ada kontraksi dahsyat terjadi antara APBD tahun 2021 dengan APBD tahun 2022 ini.

“APBD kita dalam kondisi kurang sehat, bisa dikatakan sakit,” ungkap Wakil Ketua DPRD NTB bidang anggaran, Mori Hanafi, Kamis 7 April 2022.

Hal ini disampaikan Mori menyinggung karena adanya tanggungan hutang kepada pihak ketiga sebesar Rp 227,6 Miliar, pada bulan Mei mendatang harus dibayarkan. Jumlah itu dilihat dari keseluruhan APBD NTB yang bermasalah sebesar 5 persen.

Politisi Gerindra itu menjelaskan hutang ini muncul karena pemerintah pada akhir bulan Desember 2021 lalu tidak punya cukup uang membayar seluruh kegiatan.

Mori membeberkan penyebab APBD NTB sakit, salah satunya berkurangnya pendapatan daerah di tahu 2021 itu pertama Transfer Dana Alokasi Umum dari pemeintah pusat jauh berkurang.

Kedua, Pemprov NTB punya beban 8 persen dari DAU untuk vaksinasi. Sebetulnya vaksin itu gratis dari pemerintah pusat namun Pemprov perlu menanggulangi honor vaksinator, kebutuhan distribusi dan lainnya.

Penyebab ketiga daya beli masyarakat lemah. Salah satu potensi pajak yang bisa menyumbang PAD mencapai ratusan Miliar dari pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Faktanya pendapatan dari BBNKB menurun. “Orang yang mampu beli mobil ini turun drastis,” sebutnya.

Terakhir penyebab secara keselurhan PAD Pemprov NTB sangat sulit bisa dioptimalkan.

Mori mengaku idealnya untuk menyatakan Pemprov ada hutang berdasarkan hasil audit BPK tetapi didalam aturan Inspektorat juga boleh menyatakan adanya hutang tersebut berdasarkan pendalamannya. Sehingga itu cukup dijadikan dasar untuk pemerintah segera mencari cara untuk melakukan pembayaran hutang tersebut. (Iba)