NTB Dorong Peningkatan Kualitas Calon PMI Lewat Pendidikan Vokasi Terpadu

Plt Kadis Nakertrans NTB Baiq Nelly Yuniarti. (Iba/Ist)
Plt Kadis Nakertrans NTB Baiq Nelly Yuniarti. (Iba/Ist)

Detikntbcom – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat kesiapan tenaga kerja lokal untuk bersaing di pasar internasional. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah memperkuat pendidikan dan pelatihan vokasi bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya yang mengikuti program penempatan resmi antar pemerintah (G to G).

Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan arahan langsung dari Penjabat Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal. Fokusnya adalah mendorong pengiriman tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional, bukan sekadar tenaga kasar di sektor informal.

“Melalui pendidikan vokasi, kami ingin mencetak tenaga kerja yang siap pakai dan memenuhi standar internasional. Target kami adalah negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia,” kata Nelly.

Program pelatihan vokasi ini menggandeng berbagai pihak, termasuk sekolah kejuruan (SMK), perguruan tinggi, perusahaan penempatan tenaga kerja (P3MI), serta dunia usaha dan dunia industri. Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Lombok Timur menjadi mitra penting dalam penyelenggaraan pelatihan teknis dan bahasa.

Namun, tantangan besar masih dihadapi, terutama dalam hal penguasaan bahasa asing. Nelly mengungkapkan, dari sekitar 200 orang yang mengikuti seleksi magang ke Jepang, hanya 52 yang lolos. Padahal peluang kerja di luar negeri terbuka lebar, dengan kuota mencapai puluhan ribu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa lulusan SMK mendominasi angka pengangguran terbuka di NTB. Per Agustus 2024, tingkat pengangguran tertinggi berasal dari lulusan SMK dengan angka 4,73 persen, disusul lulusan SMA dan perguruan tinggi.

“Ini menjadi cermin bahwa kita harus berbenah. Vokasi harus diperkuat agar menjadi jalur utama peningkatan kualitas tenaga kerja daerah,” ujarnya.

Melalui program ini, pemerintah berharap dapat mencetak calon pekerja migran yang tidak hanya siap dari segi teknis, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, etika kerja global, serta pemahaman budaya negara tujuan. Tujuannya jelas: menciptakan tenaga kerja NTB yang profesional, bersertifikasi, dan berdaya saing tinggi. (Iba)