Detikntbcom – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal, menyebut tragedi pendaki asal Brasil Juliana Marins, sebagai peringatan keras bagi semua pihak untuk membenahi tata kelola keselamatan pendakian Gunung Rinjani. Gunung yang menjadi ikon pariwisata NTB ini, kata Iqbal, selama ini masih jauh dari sistem keselamatan standar.
“Kejadian Juliana Marins itu menjadi trigger. Kita ikut prihatin, tapi ini sekaligus mengingatkan bahwa masih banyak yang belum kita lakukan untuk Rinjani,” ujar Gubernur dalam sambutannya pada pembukaan Pelatihan Penyelamatan dengan Evakuasi Vertikal, di Kecamatan Sembalun, Rabu (17/7/2025).
Rinjani: Penyangga Hidup yang Terlupakan
Gubernur menegaskan, Gunung Rinjani bukan hanya objek wisata, melainkan sumber kehidupan bagi masyarakat Lombok. Mulai dari sektor pertanian, pariwisata, hingga suplai air bersih, semuanya bergantung pada keberlanjutan ekosistem Rinjani.
Namun di balik keindahan itu, fakta menunjukkan buruknya sistem keselamatan bagi para pendaki dan wisatawan.
“Signage tidak ada. SOP penyelamatan belum solid. Teman-teman yang rescue selama ini murni relawan, dan mereka tanpa perlindungan. Jangan-jangan tidak ada asuransinya sama sekali,” kata Iqbal.
Data Kecelakaan Gunung Rinjani 2025
Hingga pertengahan Juli 2025, tercatat 8 kasus kecelakaan pendakian di kawasan Gunung Rinjani. Berikut rinciannya:
1. 2 kasus meninggal dunia, termasuk pendaki asal Brasil, Juliana Marins (Juli 2025) dan seorang pendaki lokal (April 2025).
2. 4 kasus luka-luka akibat jatuh dan hipotermia, terjadi di jalur Torean dan Senaru.
3. 2 kasus pendaki tersesat, berhasil ditemukan setelah pencarian intensif oleh relawan dan Basarnas.
Data tersebut menunjukkan meningkatnya risiko kecelakaan akibat minimnya sistem deteksi dini, jalur pendakian yang belum dilengkapi tanda, serta kurangnya edukasi keselamatan bagi wisatawan.
Pelatihan dan Penataan Ulang Rinjani
Sebagai respons konkret, Pemprov NTB bekerja sama dengan Skygers Indonesia, Consina, FPTI, Basarnas, TNI/Polri, dan TNGR menyelenggarakan Pelatihan Evakuasi Penyelamatan Vertikal selama 16–20 Juli 2025 di Kecamatan Sembalun.
Sebanyak 22 peserta mengikuti pelatihan ini, dan 10 di antaranya disertifikasi standar internasional dalam teknik evakuasi vertikal — metode penyelamatan dari medan terjal dan berbatu seperti jurang atau lereng ekstrem.
“Ke depan, mereka ini bisa membantu dalam situasi darurat. Kita ingin membangun tim rescue yang profesional,” ujar Iqbal.
Langkah Lanjutan: Signage dan Pos Darurat di Puncak
Pemprov NTB juga mulai memasang papan tanda (signage) dari pintu masuk pendakian hingga ke puncak, bekerja sama dengan jenama lokal yang bergerak di bidang perlengkapan alam bebas. Rambu-rambu ini akan memuat petunjuk arah, peringatan medan berbahaya, hingga informasi lokasi pos darurat.
Selain itu, peralatan penyelamatan akan ditempatkan di posko darurat dekat puncak, bukan hanya di kaki gunung.
“Agar jika ada evakuasi, peralatan dibawa dari atas ke bawah, bukan sebaliknya. Ini akan memangkas waktu penyelamatan secara signifikan,” ujar Gubernur.
Tata Kelola Baru, Semangat Baru
Iqbal menegaskan, semua kritik publik harus diterima sebagai bentuk kepedulian. Ia pun terus membangun koordinasi dengan Bupati Lombok Timur dan berbagai pemangku kepentingan untuk membentuk tata kelola baru Rinjani yang lebih profesional dan berkelanjutan.
“Hari ini kita hadir semua: pemerintah daerah, taman nasional, basarnas, TNI, Polri, komunitas, hingga brand outdoor seperti Consina. Ini orkestrasi bersama, agar Gunung Rinjani tak lagi jadi kuburan tanpa peringatan, tapi kawasan wisata aman, indah, dan manusiawi,” pungkasnya. (Iba)












