Oleh: Giri Arnawa*
Detikntbcom – Kemiskinan masih menjadi tantangan struktural pembangunan Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB). Persoalan kemiskinan hari ini tidak lagi semata diukur dari jumlah penduduk miskin, melainkan juga dari kedalaman dan keparahannya—yakni seberapa jauh pengeluaran rumah tangga miskin berada di bawah garis kemiskinan serta tingkat ketimpangan di antara kelompok miskin itu sendiri. Realitas ini menjelaskan mengapa kemiskinan sulit diputus apabila hanya ditangani melalui bantuan sesaat atau program rutin tanpa perubahan pendekatan yang mendasar.
Dalam konteks tersebut, peluncuran Program Desa Berdaya NTB oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada 16 Desember 2025, bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-67 Provinsi NTB, menjadi langkah strategis yang layak mendapat perhatian lebih luas. Program unggulan di bawah kepemimpinan Gubernur Lalu Muhammad Iqbal ini menandai pergeseran paradigma pembangunan desa: dari pendekatan karitatif dan sektoral menuju pembangunan yang menekankan keberdayaan, kemandirian, dan keberlanjutan.
Sebagai provinsi kepulauan dengan basis ekonomi perdesaan yang kuat serta ketergantungan tinggi pada sektor primer, NTB menghadapi tantangan kemiskinan yang khas. Fluktuasi iklim, keterbatasan akses pasar, serta tingginya kerentanan terhadap bencana alam kerap menempatkan rumah tangga miskin pada posisi yang rapuh, bahkan berisiko terperosok lebih dalam ke kategori kemiskinan ekstrem. Karena itu, intervensi kebijakan di NTB menuntut pendekatan yang lebih komprehensif dan adaptif terhadap konteks lokal.
Secara nasional, pemerintah telah menetapkan target nol kemiskinan ekstrem sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan dan komitmen Indonesia terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 1: Tanpa Kemiskinan. Namun, pencapaian target ambisius ini sangat bergantung pada efektivitas implementasi di daerah, terutama di tingkat desa—ruang hidup bagi sebagian besar penduduk miskin dan kelompok rentan.
Desa Berdaya: Menjawab Persoalan dari Akar
Program Desa Berdaya NTB dirancang untuk menjawab persoalan kemiskinan secara struktural dan menyeluruh. Program ini tidak berdiri sebagai proyek sektoral yang terpisah-pisah, melainkan sebagai sebuah platform konvergensi pembangunan desa yang mengintegrasikan perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi, penguatan modal sosial, serta perluasan inklusi keuangan.
Pada tahap awal, Desa Berdaya menyasar desa-desa dengan kategori kemiskinan ekstrem melalui pendekatan graduation model. Pendekatan ini memastikan bahwa rumah tangga miskin tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga mendapatkan pendampingan intensif, akses terhadap aset produktif, peningkatan kapasitas, serta penguatan jejaring ekonomi hingga mereka benar-benar mampu keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan. Strategi ini sejalan dengan praktik baik global dalam pengentasan kemiskinan ekstrem yang telah terbukti efektif di berbagai negara berkembang.
Kontribusi Nyata terhadap Pencapaian SDGs
Lebih dari sekadar program daerah, Desa Berdaya NTB memberikan kontribusi langsung terhadap sejumlah tujuan SDGs, antara lain:
- SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan): melalui penghapusan kemiskinan ekstrem berbasis pendekatan graduasi.
- SDGs 2 (Tanpa Kelaparan): melalui penguatan ketahanan pangan desa dan pengembangan pertanian lokal.
- SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): melalui penguatan mata pencaharian dan ekonomi berbasis potensi desa.
- SDGs 10 (Berkurangnya Kesenjangan): dengan fokus pada kelompok paling rentan dan miskin ekstrem.
- SDGs 11 (Permukiman Berkelanjutan): melalui pengembangan desa tanpa kawasan kumuh dan penyediaan hunian layak.
- SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim): melalui penguatan desa hijau dan desa tangguh bencana.
- SDGs 17 (Kemitraan): melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas.
Pendekatan tematik Desa Berdaya—mulai dari Desa Mandiri Pangan, Desa Tangguh Bencana, Desa Hijau, hingga Desa Bebas Sampah—menjadikan program ini relevan tidak hanya bagi agenda pembangunan daerah, tetapi juga bagi pencapaian target pembangunan nasional dan komitmen global Indonesia.
Dari Desa untuk Indonesia
Dalam diskursus pembangunan nasional, Desa Berdaya NTB menonjol karena orientasinya yang sistemik dan terukur. Program ini berbasis data, berfokus pada capaian hasil (outcome), serta dirancang agar dapat direplikasi di daerah lain dengan karakteristik serupa. Di tengah upaya Indonesia memperkuat peran desa sebagai motor pembangunan, Desa Berdaya menawarkan contoh konkret bagaimana kebijakan nasional dapat diterjemahkan secara efektif hingga ke tingkat tapak.
Lebih dari itu, Desa Berdaya menegaskan bahwa pencapaian SDGs bukanlah agenda global yang abstrak. Ia adalah proses nyata yang dimulai dari desa—dari rumah tangga, komunitas, serta potensi lokal yang dikelola secara berkelanjutan dan inklusif.
Menuju NTB Makmur Mendunia
Desa Berdaya NTB pada akhirnya bukan sekadar program pembangunan, melainkan sebuah gerakan perubahan. Sebuah upaya sistematis untuk menggeser masyarakat dari ketergantungan menuju kemandirian, dari penerima bantuan menuju subjek pembangunan. Jika dijalankan secara konsisten dan diawasi dengan baik, program ini tidak hanya akan mempercepat pengentasan kemiskinan di NTB, tetapi juga memperkaya praktik baik pembangunan desa di Indonesia.
Dari desa yang berdaya, NTB menatap masa depan. Dan dari NTB, Indonesia belajar bahwa pembangunan berkelanjutan sejatinya harus dimulai dari akar.
*Penulis adalah anggota Tim Percepatan Gubernur NTB
Editor: Ibrahim Bram Abdollah












