Meski Minim Fasilitas, SMAN 9 Mataram Cetak Sejumlah Prestasi dan Inovasi Membanggakan

Kepala SMA Negeri 9 Mataram Nengah Istiqomah berlatar gedung sekolahnya. (Iba)
Kepala SMA Negeri 9 Mataram Nengah Istiqomah berlatar gedung sekolahnya. (Iba)

Detikntbcom – Di usianya yang baru menginjak tujuh tahun, SMA Negeri 9 Mataram menunjukkan perkembangan yang pesat dan berhasil menempatkan diri sebagai salah satu sekolah yang diperhitungkan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Berbagai prestasi siswa, guru, hingga inovasi pendidikan berhasil diraih sekolah yang dipimpin Kepala SMA Negeri 9 Mataram, Nengah Istiqomah.

Menurut Nengah Istiqomah, capaian tersebut merupakan hasil dari konsistensi sekolah dalam membangun karakter, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memberikan ruang yang luas bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan minat mereka.

“Kami bersyukur, meskipun usia sekolah ini masih sangat muda, SMA Negeri 9 Mataram sudah mampu bersaing dengan sekolah-sekolah besar di Kota Mataram maupun NTB. Ini menjadi bukti bahwa sekolah kami layak menjadi salah satu pilihan masyarakat,” kata Nengah Istiqomah, Senin (15/6/2026) di Mataram.

Sabtu Budaya, Program Unggulan Pembentuk Karakter

Salah satu program yang menjadi ciri khas SMA Negeri 9 Mataram adalah Sabtu Budaya, sebuah kegiatan yang memberi ruang kepada siswa untuk menampilkan kreativitas berbasis pemajuan kebudayaan.

Program ini telah menjadi agenda rutin yang paling dinantikan para siswa. Setiap kelas mendapat kesempatan untuk menampilkan karya seni dan budaya yang mereka rancang secara mandiri, mulai dari drama, tari, musik, hingga pertunjukan kolaboratif yang mengangkat kekayaan budaya Nusantara, khususnya budaya Sasak, Samawa dan Mbojo (Sasambo).

Menariknya, seluruh konsep pertunjukan dibuat sendiri oleh siswa. Mereka menyusun cerita, menciptakan musik, menyiapkan kostum, hingga mengatur tata pertunjukan secara gotong royong.

“Anak-anak mampu mengangkat budaya daerah menjadi karya yang sangat kreatif. Mereka membuat drama, musik, tarian, bahkan menciptakan karakter dan kostumnya sendiri. Yang membuat kami bangga, teman-teman mereka juga memberikan apresiasi yang luar biasa setiap kali pertunjukan berlangsung,” ujarnya.

Menurut Nengah, program tersebut terbukti efektif dalam membangun karakter positif siswa seperti disiplin, kerja sama, kepemimpinan, kreativitas, serta kemampuan berkomunikasi.

Literasi yang Berbasis Budaya

Kesuksesan Sabtu Budaya kemudian melahirkan inovasi lain bernama Gerakan Literasi Budaya yang menjadi salah satu praktik baik SMA Negeri 9 Mataram.

Melalui program ini, siswa tidak hanya mengenal budaya melalui teori, tetapi juga melakukan eksplorasi, membaca referensi, berdiskusi, hingga menghasilkan karya nyata berbasis budaya.

“Literasi mereka tumbuh secara alami. Sebelum membuat karya, mereka harus membaca, mencari informasi, berdiskusi, lalu menyatukan ide dengan teman-temannya. Itu proses literasi yang sangat kuat,” jelasnya.

Program tersebut juga dinilai mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa merasa betah berada di sekolah.

Keterimaan PTN Terus Meningkat

Dampak positif berbagai program sekolah juga tercermin dari meningkatnya jumlah lulusan SMA Negeri 9 Mataram yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN).

Pada tahun 2026, lebih dari 100 siswa berhasil lolos ke berbagai PTN melalui berbagai jalur seleksi. Sebanyak 64 siswa diterima di Universitas Mataram (Unram), sementara lainnya tersebar di berbagai kampus ternama seperti Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Udayana, Politeknik Negeri, Poltekkes, serta sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta dan daerah lainnya.

Menurut Nengah, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari pendampingan intensif yang dilakukan sekolah kepada siswa kelas XII, termasuk menghadirkan narasumber eksternal, lembaga bimbingan belajar, dan berbagai program motivasi.

“Kami selalu menanamkan kepada anak-anak bahwa mereka harus melanjutkan pendidikan dan menggapai cita-cita. Guru-guru tidak pernah lelah mendampingi mereka agar mampu bersaing masuk perguruan tinggi negeri,” katanya.

Prestasi Siswa Tembus Tingkat Nasional

Selain prestasi akademik, SMA Negeri 9 Mataram juga mencatatkan berbagai capaian membanggakan di bidang non-akademik.

Tahun ini, tim lomba baris-berbaris sekolah berhasil meraih Juara I tingkat NTB dalam ajang yang diselenggarakan MPR RI. Sebanyak 15 siswa akan mewakili NTB pada kegiatan nasional di Jakarta dan dijadwalkan mengikuti rangkaian kegiatan di Istana Negara pada peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Tak hanya itu, seorang siswa bernama Gilang juga dipercaya mewakili Kota Mataram dalam seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).

“Menjadi juara tingkat NTB tentu tidak mudah. Dibutuhkan pembinaan yang serius, dukungan orang tua, sekolah, dan semangat siswa yang luar biasa. Kami bersyukur SMA 9 bisa menunjukkan prestasi tersebut,” ungkap Nengah.

Sekolah Penggerak dan Ramah Anak Pertama di NTB

SMA Negeri 9 Mataram tercatat sebagai salah satu dari dua SMA di Kota Mataram yang lolos program Sekolah Penggerak melalui seleksi nasional bersama SMA Negeri 4 Mataram.

Selain itu, sekolah ini juga menjadi satu-satunya SMA di NTB yang memperoleh pengakuan sebagai Sekolah Ramah Anak dengan standar nasional dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Atas capaian tersebut, Nengah Istiqomah menerima penghargaan tingkat nasional yang diserahkan langsung di Jakarta pada 2023.

Tak berhenti di sana, SMA Negeri 9 Mataram juga memperoleh penghargaan dan berbagai apresiasi dari pemerintah pusat dan daerah atas komitmennya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan berpihak kepada peserta didik.

Guru Berprestasi dan Sekolah Berbasis Digital

Dari sisi sumber daya manusia, SMA Negeri 9 Mataram juga memiliki sejumlah guru berprestasi. Salah satunya adalah Ardiansyah yang menjadi satu-satunya guru di Kota Mataram yang lolos seleksi nasional Program Guru Penggerak pada angkatan awal program tersebut.

Keberhasilan itu semakin memperkuat posisi sekolah sebagai institusi yang terus berinovasi. Bahkan, SMA Negeri 9 Mataram menjadi salah satu dari 16 sekolah di Indonesia yang dikunjungi Kementerian Pendidikan untuk melihat implementasi pembelajaran berbasis digital yang diterapkan di sekolah tersebut.

“Kami terus mendorong guru menggunakan berbagai platform digital dalam pembelajaran. Karena itu kementerian tertarik melihat langsung praktik digitalisasi yang kami jalankan,” ujarnya.

Menuju Sekolah Berbasis Riset

Ke depan, SMA Negeri 9 Mataram akan mengembangkan konsep sekolah berbasis riset untuk mengukur efektivitas setiap program yang dijalankan.

Seluruh kegiatan sekolah akan dievaluasi melalui survei, observasi, dan penelitian sehingga setiap kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data.

Salah satu program yang saat ini telah berjalan adalah DISPO (Disiplin Positif) yang menjadi instrumen pembentukan karakter dan ketertiban siswa.

“Semua program akan kami evaluasi melalui riset. Kami ingin mengetahui dampaknya terhadap siswa dan guru sehingga program yang baik bisa terus ditingkatkan,” kata Nengah.

Butuh Dukungan Sarana dan Prasarana

Di balik sederet prestasi tersebut, SMA Negeri 9 Mataram masih menghadapi berbagai keterbatasan sarana dan prasarana.

Menurut Nengah, sekolah hingga saat ini belum memiliki laboratorium IPA yang memadai, laboratorium komputer standar, serta perpustakaan yang sesuai ketentuan nasional. Bahkan beberapa fasilitas bangunan membutuhkan perbaikan segera karena alasan keselamatan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan akreditasi sekolah masih berada pada kategori B.

Karena itu, pihak sekolah berharap Pemerintah Provinsi NTB dan pusat dapat memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan fasilitas pendidikan di SMA Negeri 9 Mataram.

“Kami sudah membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas tidak menghalangi prestasi. Namun tentu akan jauh lebih baik apabila dukungan sarana dan prasarana juga diberikan agar kualitas layanan pendidikan semakin meningkat,” pungkasnya. (Iba)