Detikntbcom – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mataram mengingatkan pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi bonus demografi 2030. Pemuda dinilai tidak cukup hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi harus mengambil peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Pesan tersebut mengemuka dalam Dialog Publik bertajuk “Pemuda dan Masa Depan Indonesia: Telaah Kritis Kesiapan dalam Menghadapi Bonus Demografi 2030” yang digelar Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan (PTKP) HMI Cabang Mataram di Kedai Corner, depan Kampus Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Jumat (30/10/2026) malam.
Dialog tersebut menghadirkan narasumber lintas sektor, yakni Pangdam XXX/Rinambora Mayjen TNI Edi Saputra yang diwakili Kasdim 1606 Letkol Huwairi, Ketua DPRD Kota Mataram Abdul Malik, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTB Dr. Syamsul Hadi yang diwakili Kabid SMK Hasbi Asidik, serta Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) NTB Drs. H. Surya Bahari yang diwakili perwakilan Bidang KJI.
Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Mataram, Muhammad Farhan, dalam pengantar kegiatan mengatakan bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan bagi Indonesia apabila tidak diimbangi kesiapan sumber daya manusia dan kebijakan pemerintah.
Menurutnya, tanpa pendidikan berkualitas, ketersediaan lapangan pekerjaan, serta ruang partisipasi yang memadai, melimpahnya penduduk usia produktif justru berpotensi memunculkan persoalan sosial.
Mulai dari pengangguran, ketimpangan ekonomi hingga rendahnya daya saing generasi muda.
“Pemuda harus menjadi garda terdepan dalam menentukan arah masa depan bangsa. Kita perlu menyadari bahwa bonus demografi tidak akan secara otomatis menjadi keuntungan bagi bangsa apabila tidak dikelola dengan kebijakan yang tepat,” ujarnya.
Farhan menegaskan, Indonesia Emas 2045 tidak boleh berhenti sebagai slogan pembangunan. Negara harus menunjukkan keseriusan dalam mempersiapkan, memberdayakan, serta memberikan kepercayaan kepada generasi muda.
Pemuda dan Tantangan Sejarah Bangsa
Dalam pemaparan pertama, Kasdim 1606 Letkol Huwairi yang mewakili Pangdam XXX/Rinambora menekankan bahwa pemuda memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah dan kemajuan Indonesia.
Menurutnya, generasi muda mempunyai kekuatan berupa gagasan baru, inovasi, serta keberanian untuk melakukan perubahan.
“Pemuda ialah generasi yang menjadi komponen penting dalam kemajuan bangsa Indonesia. Karena pemuda mempunyai gagasan baru, inovatif dan keberanian, bahkan sejarah mencatat bangsa Indonesia merdeka atas keterlibatan pemuda,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan kembali momentum Sumpah Pemuda 1928 sebagai bukti bahwa persatuan generasi muda mampu menjadi kekuatan besar dalam perjalanan bangsa.
Karena itu, menghadapi bonus demografi 2030, pemuda perlu membangun kolaborasi dan memperkuat persatuan untuk menjawab berbagai tantangan nasional.
DPRD Ingatkan Pemuda Adaptif di Era Digital
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Mataram Abdul Malik menjelaskan bahwa DPRD memiliki tiga fungsi utama, yakni legislasi, penganggaran, dan pengawasan yang harus dijalankan dengan orientasi pada kepentingan masyarakat.
Ia juga mendorong generasi muda agar lebih jeli membaca perubahan zaman dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai peluang.
“Pemuda mesti pintar-pintar mencari peluang, karena zaman di era digital sekarang. Semakin canggihnya zaman, semakin besar tantangan yang dihadapi,” kata Malik.
Menurutnya, perubahan teknologi harus disikapi dengan peningkatan kapasitas, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi agar pemuda tidak tertinggal dalam persaingan.
Puluhan Siswa SMK Dikirim Bekerja ke Luar Negeri
Dari perspektif pengembangan sumber daya manusia, Kabid SMK Dispora NTB Hasbi Asidik menjelaskan bonus demografi merupakan kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif.
Ia memaparkan salah satu upaya menyiapkan tenaga kerja produktif melalui peningkatan keterampilan dan akses kesempatan kerja. Bahkan, puluhan siswa SMK telah diberangkatkan untuk bekerja ke luar negeri dengan kisaran gaji Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan.
Hasbi menegaskan, generasi muda harus memiliki keberanian untuk mengambil peluang dan tidak hanya bergantung pada keadaan.
“Di tengah tantangan zaman sekarang pemuda dituntut untuk mencari peluang. Pemuda tinggal memilih menjadi pelaku atau menjadi korban. Jika memilih menjadi pelaku maka harus kreatif, dan jika memilih menjadi korban maka tidak akan pernah berkembang,” tegasnya.
Pemuda Dituntut Mengandalkan Ide dan Keunggulan
Pandangan lain disampaikan perwakilan Bidang KJI Kesbangpol NTB yang mewakili Kepala Kesbangpol NTB. Ia menegaskan bahwa pemuda merupakan bagian penting yang tidak pernah terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa.
Menurutnya, persatuan dan kekuatan gagasan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa.
“Bangsa Indonesia dijajah puluhan tahun, harta kekayaan alamnya dirampas. Namun, atas kebersamaan pemuda, penjajah mampu dilawan,” ujarnya.
Ia juga mengutip pemikiran Sun Tzu bahwa kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya jumlah prajurit, melainkan kemampuan membaca kelemahan dan menyusun strategi.
Dalam konteks bonus demografi, ia menilai pemuda harus lebih berorientasi pada kualitas gagasan, kemampuan, serta keunggulan yang dimiliki.
“Pemuda itu bicara ide, bukan bicara berapa presentasi banyak. Oleh karena itu pemuda di era sekarang tidak bisa menyalahkan tentang keadaan semata, melainkan apa sih kemampuan dan keunggulan yang dimiliki,” katanya.
HMI: Pemuda Jangan Hanya Jadi Pelengkap Pembangunan
Menutup dialog, Ketua Umum HMI Cabang Mataram menyampaikan tiga poin penting sebagai kesimpulan kegiatan.
Pertama, bonus demografi merupakan peluang strategis bagi Indonesia ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Kondisi tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, peluang tersebut harus disertai kesiapan pendidikan, keterampilan, lapangan pekerjaan, dan kebijakan pembangunan yang tepat.
Kedua, pemuda harus ditempatkan sebagai aktor utama perubahan, bukan sekadar pelengkap kegiatan pemerintahan atau objek program kepemudaan yang bersifat administratif.
Pemerintah dinilai perlu memberikan ruang partisipasi nyata kepada generasi muda dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi kebijakan publik.
Selain itu, kolaborasi strategis antara pemerintah dan organisasi kemahasiswaan serta kepemudaan perlu diperkuat. Kritik dan gagasan pemuda harus dipandang sebagai bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat.
Pemerintah, menurutnya, perlu memiliki keberanian untuk mendengar aspirasi generasi muda. Sebaliknya, pemuda juga harus bertanggung jawab menghadirkan kritik berdasarkan data, argumentasi, dan solusi.
Ketiga, HMI harus mengambil peran lebih besar dalam persoalan keumatan dan kebangsaan. Organisasi mahasiswa Islam tersebut dituntut tetap menjadi garda terdepan dalam mengawal kepentingan masyarakat sekaligus mempersiapkan generasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045. (Iba)










