Terkuak, ternyata China punya utang pada kesultanan Bima hingga $500 juta dolar

Ilustrasi terjerat utang (Dokumen Istimewa)

Bima (Detikntbcom) – China dikabarkan berutang banyak kepada kesultanan Bima pada masa kesultanan Muhammad Salahuddin hingga ratusan juta dolar Amerika.

Hal tersebut terkuak dari dokumen yang ditemukan oleh Dewi Ratna Muchlisa Mandyara dan diupload ke media sosial Facebook.

Dokumen yang bertuliskan Liberty Bond dalam bahasa Inggris itu masih dalam keadaan utuh dan jelas tertulis hutang China ke Kesultanan Bima berjumlah $500,000,000,00 dollar yang tertera dalam sebuah Obligasi (surat berharga).

Surat utang (Obligasi) China pada kesultanan Bima (Dokumen Istimewa)

Sejarawan sekaligus cucu Sultan Muhammad Salahuddin, Dewi Ratna Muchlisa Mandyara, sering mengungkap dokumen Kesultanan Bima melalui media sosial.

Terbaru, Kepala Museum Kebudayaan Samparaja Bima itu mengungkap dokumen utang pemerintah China ke Kesultanan Bima.

Sekitar tiga lembar dokumen tersebut memuat surat utang negara Tirai Bambu ke Kesultanan Bima.

“Dari hasil bongkar-bongkar dokumen, ketemu surat utang. Sepintas saya pikir kalender China atau Jepang. Setelah dibolak-balik kok sampai ada tanda tangan Menteri Keuangan China dan pejabat-pejabat keuangan lain,” kata Dewi Ratna, Rabu (27/10).

Terhadap dokumen tersebut, pihaknya kemudian mengkonfirmasi langsung seorang rekannya di Jakarta untuk menelusuri kebenaran dokumen yang dimiliki.

Ternyata benar China memiliki utang di Kesultanan Bima. China saat itu berutang karena mengalami banyak kerugian pasca peperangan.

“Ternyata Kesultanan Bima pada saat itu memberikan pinjaman uang atau hutang kepada Republik Cina yang saat itu mengalami pailit karena peperangan, sehingga mengeluarkan surat hutang,” ujarnya.

Dewi Ratna mengatakan, itu menjadi bukti hubungan diplomatik Kesultanan Bima dengan bangsa-bangsa lain.

“Dokumen ini menjadi bukti sejarah hubungan diplomatik yang luas antara Kesultanan Bima dan Republik Cina,” katanya.

Liberty Bond adalah Sebuah obligasi Liberty (atau pinjaman kebebasan) adalah obligasi perang yang dijual di Amerika Serikat untuk mendukung tujuan Sekutu dalam Perang Dunia I.

Berlangganan obligasi menjadi simbol tugas patriotik di Amerika Serikat dan memperkenalkan gagasan sekuritas keuangan ke banyak warga untuk pertama kalinya. (Iba)