Detikntbcom – Museum bukan sekadar ruang penyimpanan artefak, melainkan penanda penting perjalanan peradaban manusia. Penegasan itu disampaikan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-44 Museum Negeri NTB, Jumat (23/1/2026).
Didampingi Bunda Literasi NTB, Sinta Agathia M. Iqbal, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov NTB, Gubernur menekankan bahwa museum memiliki peran strategis sebagai medium untuk memahami masa lalu sekaligus membaca arah masa depan.
Menurut Miq Iqbal sapaan akrab Gubernur NTB sejarah tidak bergerak secara linier, melainkan dinamis seperti aliran sungai. Peristiwa yang terjadi di masa lampau, kata dia, dapat terulang kembali dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda.
“Kita tidak bisa membaca masa depan tanpa melihat masa lalu. Dan masa lalu itu hanya bisa kita tangkap dari monumen-monumen sejarah seperti museum,” ujar Miq Iqbal.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki NTB merupakan modal strategis dalam mendorong pengembangan pariwisata berkualitas (quality tourism). Wisatawan dengan minat tinggi terhadap budaya, menurutnya, tidak sekadar mencari destinasi, tetapi pengalaman yang autentik dan bermakna.
“Wisatawan premium datang ke daerah yang memiliki keunikan dan narasi sejarah yang kuat. Museum menjadi ruang penting untuk menghadirkan narasi itu,” katanya.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB berkomitmen mendorong pengembangan museum secara progresif melalui peningkatan kualitas pengelolaan dan diversifikasi konten, termasuk penguatan museum-museum tematik yang lebih spesifik.
“Museum harus menjadi pusat dan penggerak bagi museum-museum lain, agar ekosistem permuseuman di NTB semakin kuat,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah menyiapkan naskah akademik sebagai dasar pembentukan museum tematik di NTB.
Museum tematik tersebut, lanjut Nuralam, akan menampilkan koleksi dan narasi sejarah spesifik, salah satunya terkait peristiwa letusan gunung berapi besar yang berdampak global, seperti Gunung Samalas/Rinjani dan Tambora.
“Museum ini akan fokus menampilkan sejarah spesifik letusan Gunung Samalas, Rinjani, dan Tambora yang telah mengubah peradaban dunia,” tutupnya. (Iba)












