UNESCO Akui Naskah Kuno Bo’ Sangaji Kai, Gubernur Iqbal Bidik Masuk Kurikulum Pendidikan

Bo Sangaji Kai resmi masuk dalam Register Regional Memory of the World Asia-Pasifik (MOWCAP) UNESCO 2026. Pengakuan internasional ini disambut Gubernur Iqbal saat menghadiri Pertemuan Umum ke-11 MOWCAP di kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta, Kamis (5/11/2026). (Iba)
Bo Sangaji Kai resmi masuk dalam Register Regional Memory of the World Asia-Pasifik (MOWCAP) UNESCO 2026. Pengakuan internasional ini disambut Gubernur Iqbal saat menghadiri Pertemuan Umum ke-11 MOWCAP di kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta, Kamis (5/11/2026). (Iba)

Detikntbcom – Pengakuan UNESCO terhadap naskah kuno Bo’ Sangaji Kai menjadi momentum penting bagi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mengangkat kekayaan sejarah dan intelektual Kesultanan Bima ke panggung dunia.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal pun mendorong agar warisan dokumenter yang merekam perjalanan masyarakat Bima sejak abad ke-17 hingga abad ke-19 itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan.

Naskah bersejarah tersebut resmi masuk dalam Register Regional Memory of the World Asia-Pasifik (MOWCAP) UNESCO 2026. Pengakuan internasional ini disambut Gubernur Iqbal saat menghadiri Pertemuan Umum ke-11 MOWCAP di kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Iqbal menegaskan, pengakuan UNESCO tidak boleh berhenti sebagai simbol prestise atau kebanggaan daerah. Lebih dari itu, Bo’ Sangaji Kai harus dihidupkan kembali melalui dunia pendidikan agar generasi muda, khususnya masyarakat Bima, mengenal sejarah dan warisan pengetahuan leluhurnya.

“Alhamdulillah, salah satu warisan dokumenter kita akhirnya bisa diregister sebagai warisan budaya dunia untuk Asia Pasifik, yaitu Bo’ Sangaji. Kita harapkan ke depan diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi bagian dari kurikulum masyarakat kita, khususnya mereka yang di Bima,” ujar Iqbal.

Bukan Sekadar Catatan Sejarah, Ada Pengetahuan Geologi hingga Perlindungan Perempuan

Menurut Iqbal, nilai Bo’ Sangaji Kai jauh melampaui dokumentasi pemerintahan Kesultanan Bima. Naskah tersebut menyimpan rekaman penting mengenai diplomasi antarkerajaan, perdagangan, kehidupan sosial, tata pemerintahan hingga berbagai peristiwa alam yang memiliki relevansi dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Salah satu catatan penting adalah peristiwa letusan Gunung Tambora pada 1815 yang menjadi salah satu letusan gunung api terbesar dalam sejarah dunia.

Selain itu, naskah tersebut memuat informasi mengenai kepemimpinan perempuan dalam Kesultanan Bima serta catatan perlindungan hukum terhadap perempuan. Kandungan ini memperlihatkan bahwa masyarakat Bima pada masa lampau telah memiliki pengalaman sejarah dan praktik sosial yang menarik untuk dikaji lebih jauh.

“Dokumen ini berisi banyak aspek, bahkan di situ juga bicara mengenai geologi, mengenai vulkanologi, dan sebagainya, selain hal-hal yang bersifat sejarah dan etik,” jelasnya.

Dorong Jadi Muatan Lokal dan Bahan Ajar Sekolah

Gubernur Iqbal menilai, pemanfaatan Bo’ Sangaji Kai dalam pendidikan dapat dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan materi dan jenjang pembelajaran.

Tidak seluruh isi naskah harus dimasukkan ke dalam kurikulum. Bagian-bagian yang relevan dapat dikembangkan menjadi bahan ajar sejarah daerah, muatan lokal, hingga materi pembelajaran lintas disiplin ilmu.

Upaya tersebut perlu melibatkan sejarawan, ahli pernaskahan, tenaga pendidik, serta perguruan tinggi agar proses penerjemahan dan penyusunan materi tetap menjaga keaslian substansi sejarah sekaligus mudah dipahami peserta didik.

Iqbal menegaskan, NTB harus mampu memperkenalkan identitas daerah bukan hanya melalui keindahan alam dan sektor pariwisata, tetapi juga melalui kekayaan sejarah, budaya, serta warisan intelektual.

“Kita ingin NTB mendunia bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekayaan sejarah, budaya, dan pengetahuan yang kita miliki. Bo’ Sangaji Kai membuktikan bahwa dari Bima, kita punya warisan intelektual yang nilainya diakui dunia. Tugas kita sekarang memastikan warisan itu tetap hidup, dipelajari oleh generasi muda, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Warisan Bima Sejajar dengan Dokumenter Bersejarah Indonesia

Bo’ Sangaji Kai menjadi satu dari tiga warisan dokumenter Indonesia yang ditetapkan dalam Register Regional MOWCAP UNESCO 2026.

Dua warisan dokumenter lainnya adalah Kidung Bhuwana Wināśa dan koleksi Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

Nominasi Bo’ Sangaji Kai diajukan melalui kolaborasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Yayasan Museum Sampa Radja, dan Pemerintah Provinsi NTB.

Pengakuan tersebut sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pengembangan penelitian sejarah, digitalisasi naskah, penerbitan, pameran edukatif hingga pengembangan wisata sejarah dan budaya yang melibatkan masyarakat setempat.

Bagi NTB, pengakuan UNESCO ini menjadi modal penting untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mendukung agenda NTB Makmur Mendunia.

Tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan pengakuan internasional, melainkan memastikan warisan intelektual tersebut dapat diakses, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, Bo’ Sangaji Kai bukan hanya dokumen tentang masa lalu Kesultanan Bima. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, nilai peradaban, dan identitas masyarakat yang kini mendapat pengakuan dunia. (Iba)