Pemprov NTB: Bebas Berpendapat Bukan Alasan untuk Menghina

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) NTB Yusron Hadi. (Iba)
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) NTB Yusron Hadi. (Iba)

Detikntbcom – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) menyampaikan keprihatinan mendalam atas terus beredarnya konten penghinaan terhadap pribadi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, di media sosial.

Meskipun pemilik akun @Abiman Abiman telah ditangkap oleh aparat penegak hukum, aktivitas akun tersebut justru masih berlanjut dengan menyebarkan unggahan bermuatan ujaran kebencian.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) NTB Yusron Hadi, menegaskan bahwa penghinaan yang ditujukan kepada pribadi Gubernur bukanlah bagian dari kritik yang membangun, tetapi sudah merupakan pelanggaran terhadap norma hukum dan etika.

“Ini bukan kritik yang sehat. Kritik boleh disampaikan, tetapi tidak dengan cara yang melecehkan martabat pribadi,” ujar Yusron di Mataram.

Pemprov NTB, lanjutnya, menghormati proses hukum yang sedang berlangsung dan mendukung penuh langkah aparat untuk menindak secara adil. Namun, fakta bahwa akun tersebut masih aktif meski pemiliknya telah ditangkap menimbulkan tanda tanya besar.

“Jika pelaku sudah diamankan tetapi akun tetap aktif, maka patut diduga ada pihak lain yang terlibat. Ini harus diusut lebih dalam, apakah ada motif atau jaringan di balik semua ini,” kata Yusron.

Ia berharap pengusutan ini tidak hanya berhenti pada pelaku awal, tetapi benar-benar ditelusuri hingga ke akar agar kejadian serupa tidak terulang dan ruang digital tidak dijadikan alat serangan personal.

“Proses ini harus tuntas, agar tidak menjadi preseden buruk dan agar masyarakat tahu bahwa media sosial bukan tempat untuk menebar kebencian tanpa konsekuensi,” tambahnya.

Yusron juga mengajak masyarakat NTB untuk menjaga etika dalam bermedia sosial, serta menggunakan ruang digital untuk hal-hal yang bersifat produktif, mencerdaskan, dan membangun.

“Mari bersama-sama menjaga media sosial sebagai ruang yang mencerahkan dan beradab. Jadikan kritik sebagai sarana perbaikan, bukan sebagai senjata menyerang pribadi,” pungkasnya. (Iba)