Sekolah Rakyat, Jalan Alternatif Atasi Kemiskinan Struktural di NTB

Kepala Dinas Sosial NTB Nunung Triningsih bersama sejumlah narasumber pada acara Kamisan yang digelar Diskominfotik NTB, Kamis 24 Juli 2025 di media center kantor gubernur. (Iba)
Kepala Dinas Sosial NTB Nunung Triningsih bersama sejumlah narasumber pada acara Kamisan yang digelar Diskominfotik NTB, Kamis 24 Juli 2025 di media center kantor gubernur. (Iba)

 

Detikntbcom – Upaya Pemerintah Provinsi NTB dalam mencari solusi nyata untuk menanggulangi kemiskinan terus berlanjut. Melalui program rutin Bincang Kamisan yang digelar Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik (Diskominfotik) NTB, topik edisi ke-11 pada Kamis (24/7) mengangkat isu strategis bertajuk “Seberapa Penting Sekolah Rakyat di NTB?”

Digelar di Media Center Kantor Gubernur NTB, forum ini menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan Dinas Sosial. Turut hadir pula mahasiswa, BEM, jurnalis, dan para aktivis sosial. Diskusi berjalan hangat dengan penekanan pada peran Sekolah Rakyat sebagai jalur pendidikan alternatif yang inklusif, terutama untuk masyarakat miskin dan kelompok rentan.

Kepala Dinas Sosial NTB Nunung Triningsih, menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan model pendidikan transformatif yang mampu menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikan formal.

“Bukan sekadar tempat belajar, Sekolah Rakyat berfungsi sebagai ruang pemberdayaan sosial. Ini penting agar anak-anak dari keluarga miskin tidak terus terperangkap dalam siklus kemiskinan,” tegas Nunung.

Sementara itu, dari sisi akademisi Dr. Bajang Asrin, ditekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil dalam merancang model Sekolah Rakyat yang relevan dengan karakteristik lokal. Pendekatan berbasis komunitas dianggap sebagai kunci keberhasilan agar pendidikan menjadi instrumen pembebasan, bukan sekadar formalitas.

Diskusi yang berlangsung secara luring dan daring itu mendapat respons antusias dari para peserta. Banyak dari mereka menyampaikan pertanyaan dan gagasan, memperkuat semangat kolaboratif dalam mewujudkan pendidikan inklusif di NTB.

Melalui kegiatan seperti ini, Diskominfotik NTB menunjukkan keseriusannya dalam membangun narasi pembangunan yang inklusif, adil, dan berpihak pada yang lemah.

Harapannya, Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi wacana, tetapi berkembang menjadi gerakan nyata untuk memutus rantai kemiskinan dan memperkuat keadilan sosial di Bumi Gora. (Iba)