Detikntbcom – Musyawarah Daerah (Musda) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badan Koordinasi Bali Nusa Tenggara (Badko Bali Nusra) berlangsung relatif kondusif meski diwarnai dinamika dan perdebatan yang menghangat.
Musda ini tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, melainkan juga menjadi arena penentuan arah kepemimpinan serta konsistensi nilai perjuangan HMI di tingkat regional.
Sejak sidang-sidang awal, forum Musda diwarnai perdebatan terbuka terkait evaluasi kepengurusan sebelumnya, efektivitas peran Badko, hingga arah konsolidasi cabang ke depan. Perbedaan pandangan antar peserta mencerminkan kegelisahan kader terhadap peran Badko yang dinilai belum sepenuhnya responsif terhadap persoalan kaderisasi maupun isu sosial di wilayah Bali Nusa Tenggara.
Dalam peta dukungan yang berkembang, nama Zulhuda Apriadi mencuat sebagai salah satu kandidat terkuat. Hingga tahapan krusial persidangan, Zulhuda tercatat mengantongi tiga rekomendasi cabang, yakni dari HMI Cabang Lombok Timur, Dompu dan Bima, sehingga menempatkannya pada posisi unggul dalam kontestasi Musda Badko Bali Nusra.
Meski demikian, sejumlah peserta menegaskan bahwa rekomendasi cabang bukanlah penentu tunggal hasil Musda. Forum Musda tetap dipandang sebagai ruang pertarungan gagasan dan visi. Rekam jejak kaderisasi, komitmen menjaga independensi organisasi, serta kemampuan mengonsolidasikan cabang-cabang menjadi indikator utama bagi kepemimpinan Badko ke depan.
Ketua Umum HMI Cabang Bima, Muzakir, menilai Musda HMI Badko Bali Nusra sebagai momentum strategis untuk mengoreksi arah gerak organisasi.
“Musda ini adalah momentum untuk menguji arah perjuangan HMI di tingkat Badko. Rekomendasi cabang harus dibaca sebagai mandat ideologis, bukan sekadar angka dukungan. Badko ke depan harus hadir sebagai pusat konsolidasi kader, bukan hanya sebagai struktur administratif,” ujar Muzakir, Minggu 18 Januari 2026 di Mataram.
Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan Badko yang lahir dari Musda harus mampu keluar dari pola seremonial yang selama ini dinilai menghambat peran strategis organisasi.
“Siapa pun yang terpilih harus berani menjawab kritik lama terhadap Badko, terutama lemahnya konsolidasi cabang dan minimnya respons terhadap persoalan umat dan bangsa di kawasan Bali–Nusra,” tambahnya.
Selain Zulhuda Apriadi, nama Indra dan Hardi juga mendapatkan rekomendasi dari Cabang asalnya masing-masing. Nama-nama tersebut akan dikirimkan ke PB HMI untuk ditetapkan menjadi Ketua HMI Badko Bali Nusra periode 2026-2028.
Panitia Musda memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai mekanisme organisasi serta tetap menjunjung tinggi prinsip musyawarah internal HMI. Seluruh agenda persidangan, termasuk penetapan calon Ketua Badko Bali Nusra, dinyatakan telah rampung.
Hasil Musda ini diharapkan tidak hanya melahirkan figur ketua semata, tetapi juga arah perjuangan yang jelas dan tegas, sehingga HMI Badko Bali Nusra mampu kembali memainkan peran strategisnya sebagai lokomotif gerakan kader, intelektual, dan sosial di kawasan Bali Nusa Tenggara. (Iba)












