Detikntbcom – Ketua Umum KONI NTB, Mori Hanafi, menegaskan bahwa pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB 2026 berikutnya adalah kebutuhan pendanaan untuk mendatangkan atlet-atlet berprestasi dari luar daerah sebagai bagian dari strategi menghadapi PON 2028.
Menurut Mori, biaya mutasi atlet tidak dapat dibiayai melalui APBN maupun APBD sehingga harus disiapkan melalui sumber pendanaan nonpemerintah. Ia memperkirakan kebutuhan dana untuk proses tersebut mencapai sedikitnya Rp5 miliar.
“Kalau kita ingin mendatangkan atlet-atlet potensial yang bisa memperkuat NTB, minimal harus disiapkan dana sekitar Rp5 miliar. Ini menjadi beban dan tanggung jawab ketua KONI yang baru, siapa pun nanti yang memimpin,” ujar Mori saat menggelar rapat bersama pengurus KONI Kabupaten/Kota serta para Cabor, Sabtu 20 Juni 2026 di Gedung Sangkareang kantor Gubernur NTB.
Ia menjelaskan, proses mutasi atlet memiliki batas waktu yang sangat ketat sesuai ketentuan organisasi olahraga nasional. Seluruh perpindahan atlet harus selesai paling lambat dua tahun sebelum pelaksanaan PON.
“Biasanya PON dilaksanakan sekitar September atau Oktober. Artinya sebelum batas waktu itu seluruh proses mutasi harus sudah selesai. Kalau lewat, tidak bisa lagi dilakukan karena aturan dari pusat sangat ketat,” tegasnya.
Persaingan Antarprovinsi Semakin Ketat
Mori mengungkapkan bahwa atlet-atlet peraih medali emas PON maupun kejuaraan nasional menjadi incaran banyak daerah. Karena itu, proses perekrutan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Ia mencontohkan seorang atlet tinju NTB yang pernah diminati provinsi lain dengan nilai kompensasi mencapai ratusan juta rupiah hanya untuk atlet yang bersangkutan, belum termasuk kompensasi kepada klub atau sasana tempat atlet tersebut bernaung.
“Kalau satu atlet saja bisa mencapai ratusan juta rupiah, bayangkan kalau kita ingin mendatangkan sekitar 30 atlet berkualitas. Tentu kebutuhan anggarannya sangat besar,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan mendatangkan atlet-atlet potensial akan menjadi salah satu indikator utama kemampuan NTB bersaing di papan atas klasemen PON mendatang.
“Kalau mutasi atlet ini berhasil, itu bisa menjadi barometer apakah NTB mampu masuk lima besar. Kalau gagal, target lima besar tentu akan jauh lebih berat,” ujarnya.
Siapkan Skenario Terburuk Pembangunan Venue
Selain persoalan atlet, Mori menyebut KONI NTB bersama pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai skenario terkait pembangunan dan peningkatan fasilitas olahraga untuk PON 2028.
Ia memastikan NTB tetap dapat menyelenggarakan persiapan meskipun dukungan dari pemerintah pusat tidak sepenuhnya sesuai harapan.
“Kita sudah siapkan berbagai skenario, termasuk skenario terburuk jika pemerintah pusat tidak memberikan bantuan. Kita tetap akan memanfaatkan fasilitas yang ada semaksimal mungkin,” katanya.
Sebagai contoh, untuk pengembangan kompleks GOR Turida, prioritas utama akan diberikan pada sarana yang menjadi kebutuhan teknis pertandingan.
“Kalau tidak ada bantuan pusat, yang kita benahi dulu lapangan atletiknya. Stadionnya bisa menyusul. Yang penting lintasan atletik dan area pertandingan bisa memenuhi kebutuhan pelaksanaan cabang olahraga,” jelas Mori.
Ia optimistis dengan perencanaan yang matang serta dukungan seluruh pemangku kepentingan, NTB tetap memiliki peluang besar untuk menjadi tuan rumah yang sukses sekaligus meraih prestasi maksimal pada PON 2028.
“Yang terpenting sekarang adalah fokus pada hal-hal strategis yang menentukan prestasi, terutama penguatan atlet dan kesiapan venue. Itu yang menjadi pekerjaan besar kita ke depan,” pungkasnya. (Iba)












