Beranda Opini PEMUDA DAN TERORISM

PEMUDA DAN TERORISM

32
0
 Oleh : Ibrahim Bram Lido

Berbicara pemuda, tidak terlepas dari kata ‘radikalisme’. Bukan ‘menyudutkan’ pemuda, penulis adalah bagian dari pemuda tapi pemuda yang (alhamdulillah) tercerahkan. Bagaimana tidak, acap kali kita temukan ketika terjadi kekerasan dan radikalisme tentu pemuda selalu hadir dalam serangkaian itu. meskipun banyak juga yang berumur tua yang terlibat. Akan tetapi, Acap kali pemuda menjadi sasaran utama dalam perekrutan anggota-anggota kelompok radikal. Artinya bahwa sasaran utama kelompok radikalis sebagian besar merupakan kaum muda yang dinilai masih mudah dan bisa terprovokasi.
Lemahnya semangat kebangsaan, pergaulan bebas, masuknya budaya asing, serta faktor lingkungan menjadi faktor utama yang membuat pemuda mudah dipengaruhi dengan faham-faham yang radikal yang tanpa disadari membawa pemuda itu masuk sendiri ke dalam jaringan radikalisme dan terorisme.
Pada tahun 2011, riset Maarif Institut tentang pemetaan problem radikalisme di SMU Negeri di empat daerah. yaitu, Pandeglang, Cianjur, Yogyakarta dan solo yang mengambil data dari fenomena tersebut. Menurut riset ini, sekolah yang menjadi ruang terbuka bagi diseminasi paham apa saja, karena pihak sekolah terlalu terbuka. Kelompok radikalisme keagamaan memanfaatkan ruang terbuka ini untuk masuk secara aktif mengkampanyekan pahamnya serta memperluas jaringanya. Kelompok-kelompok agama mulai dari yang ekstrim negara dan ajakan untuk mendirikan negara islam, hingga kelompok islamis yang ingin menegakkan syariat islam (Jurnal Maarif, Vol. 8.No.1, Juli 2013). Fahmina institut merilis dalam kurun waktu tahun 2012-2015 ditemukan tindakan pelanggaran dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama.
Temuan tersebut cukup menghawatirkan. Pasalnya, bangsa Indonesia yang majemuk dan hidup dalam naungan pancasila serta UUD 1945 menyisakan persolan pelik seperti itu. Persaoaln tersebut menjadi agenda pemuda Indonesia. mereka harus segera menyingsingkan lengan baju dan mencurahkan segala kekuatannya untuk berkontribusi dalam mengurai pesoalan radikalisme dan terorisme. Kita semua harus benar-benar mengutuknya. Lalu berikhtiar sekuat tenaga agar sederetan kejadian seperti bom sarinah yang terjadi pada 14 Januari 2016 lalu menjadi trending topik di media sosial, media cetak maupun elektronik  serta sederetan kasus terorisme lainnya di berbagai daerah yang menyita perhatian kita tidak terulang dengan menggali dan menemukan akar persoalannya. Bagaimana pun bom sarinah di Jakarta beberapa bulan lalu sangat menohok kita. Khususnya menohok kaum  muda Indonesia karena pelaku peledakan bom itu berusia 20-40 tahun.
Radikalisme bukan hanya musuh bagi umat muslim tetapi juga musuh agama kristen dan yahudi serta agama-agama lainnya yang ada di dunia yang harus diakhiri. Artinya apapun agama di dunia ini tidak membenarkan ajaran-ajaran yang mengandung radikalisme dan terorisme. Sebagaimana yang pernah diutarakan Karen Amstrong dalam A History of God.
Ikhtiar menangkal Faham Radikalisme   
Persoalan tersebut sudah saatnya menjadi agenda penting bagi pemuda Indonesia khususnya Komisi Pemuda dan Mahasiswa PB HMI. PB HMI dengan segala kemampuannya harus melawan dengan tegas paham radikalisme dan terorisme yang tumbuh subur di negara ini serta melawan agenda konspirasi negara menjadikan rakyat sebagai subyek uji coba. Abdul Muqsit  Ghazali menyatakan bahwa radikalisme agama merupakan akar dari terorisme. Fenomena radikalisme agama ini dapat dilihat dari tindakan-tindakan anarkis yang mengatasnamakan agama dari suatu kelompok terhadap kelompok lain yang berbeda keyakinan dan pemahaman dengan kelompok tersebut.
Lalu bagaimanakah peran HMI?. apakah hanya diam melihat tindakan semacam itu dan berharap damai turun dari langit tanpa ada langkah yang dibangun oleh HMI?. tentu perlu melakukan kerja-kerja ikhtiar untuk menangkal radikalisme terorisme ini. Diam sama saja membiarkan paham-paham tersebut terus tumbuh subur dan merajalela di negeri ini.
Sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan, setidaknya ada empat ikhtiar HMI dalam menyelesaikan persoalan itu. Pertama, mengedapankan dialog antar agama. Dialog bukan debat. Dialog mengdepankan persamaan, bahwa semua agama mengajarkan kepada kebaikan, sedangkan debat mengedepankan perbedaan. Jika perbedaan yang dibicarakan maka tidak akan pernah mendapatkatkan titik temu sampai gontok-gontokan sekalipun. Dengan adanya dialog antar agama kita akan semakin mengerti akan makna pluralitas. Hingga menambah wawasan keilmuan kita dalam menyikapi persoalan hubungan antar umat beragama. 
Kedua, menjaga toleransi.  Toleransi antar umat beragama merupakan hal yang sangat penting untuk kita jaga dan lestarikan. Dengan adanya toleransi ini pasti tercipta kehidupan yang damai dan harmonis tanpa ada prasangka dan rasa buruk yang tertanam pada diri seseorang. Indonesia adalah negara plural yang dihuni lima agama yaitu islam, kristen, hindu, budha, dan konghucu semuanya hidup berdampingan menjaga toleransi.  Islam dengan tegas membuka ruang komunikasi terhadap umat-umat yang lainnya. islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin. Tidak mengajarkan kekerasan terhadap umatnya. Rasullullah sebagai suri tauladan bagi umat islam saat menjadi khalifah, keadaan umat beragama jauh dari kekerasan dan selalu hidup berdampingan. Termasuk orang-orang yahudi. Begitu juga kehadiran islam di Indonesia, tidak ada tumpah darah, jauh dari pemaksaan terhadap agama hindu di bawah pengaruh kerajaan Majapahit, hingga islam bisa menjadi mayoritas di Indonesia dan menjadi umat muslim terbesar di Dunia. Begitu indahnya islam. Islam berarti kepasrahan, kedamaian, dan keselamatan.
Ketiga, memberikan penjelasan dan pemahaman kepada masyarakat khususnya pemuda tentang kedamaian, bahwa tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk berbuat kekerasan dan teror. KH. Maman Imanulhaq dalam tulisannya yang berjudul “menyalakan obor toleransi” menegaskan, agama harus menjadi spirit bagi tumbuh suburnya nilai kesucian, kasih sayang dan pelayanan terhadap kemanusiaan bukan justru memantulkan kebencian, keputusasaan, mengobarkan permusuhan, terorisme dan intoleransi. Semua agama mengajarkan kepada umatnya untuk berbuat baik kepada sesama dan saling menjaga rasa aman. Agama apapun sangat menjunjung tinggi nilai kedamaian dan menghormati antar umat beragama.
Keempat, Memberikan penyuluhan terhadap siswa-siswi di sekolah-sekolah. Ini merupakan langkah kongkrit yang harus dilakukan oleh seluruh stakehorder, baik pemerintah daerah lebih-lebih pemerintah pusat serta seluruh masyarakat dan orang tua. PB HMI mengambil langkah dalam melakukan pencerahan tersebut, sebab untuk mengantisipasi menjamurnya terorisme perlu memberikan penjelasan dan pemahaman terhadap generasi penerus bangsa, dalam hal ini siswa-siswi yang masih labil dalam urusan berfikir kritis dan mendalam.
Dengan empat ikhtiar itu, peran pemuda kedepan dapat mencegah dan mengurai persoalan paham radikalisme dan terorisme di Indonesia. pada posisi ini, semua elemen agama dan aliran kepercayaan mesti bekerja sama, sebab masalah radikalisme dan terorisme bukan hanya musuh bagi umat muslim, tetapi juga umat beragama lainnya.

Penulis adalah pengurus PB HMI dan Mahasiswa Pascasarjana Uhamka Jakarta

                                                                                                                     

Leave your vote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings